Diupdate pada 19 Maret, 2026 9:26
Tayang Kamis, (19/03/2026)
Sampit-Borneoindonesianews.com-,Majelis Daerah Agama Hindu Kaharingan (MD AHK) Kotim melalui Basir (alim ulama/rohaniawan Hindu Kaharingan) Arif Rusmanto,Jainal dan Wendy telah melaksanakan ritual Badudus pengukuhan yang sah menurut agama Hindu Kaharingan jika seseorang pindah dari agama tertentu beralih ke Agama Hindu Kaharingan Pandudusan adalah prosesi pindah Agama dengan tata cara ajaran Agama Hindu Kaharingan melalui beberapa rentetan acara Ritual Batawur, selanjutnya memandikan orang yang akan dikukuhkan menggunakan air kelapa kata Jainal pada Minggu 15/3/2026.
Pada Minggu pagi sekitar pukul 7.00 Wib sekretariat Majelis Daerah Agama Hindu Kaharingan (MD AHK) Kotim di Jalan Jendral Sudirman Kilometer 2,7 yang merupakan Komplek Hindu Kaharingan Center seorang perempuan bernama lengkap Lekry berusia 33 tahun asal Desa Pondok Damar RT 02/RW 01 Jalan Desa Pondok Damar menyatakan kepada Majelis Daerah Agama Hindu Kaharingan Kotim disampit bahwa dengan niat tulus dan ikhlas serta penuh tanggungjawab Ia bermohon agar dilakukan ritual Badudus guna beralih memeluk Agama Hindu Kaharingan dari agama sebelumnya yang tidak mau disebutkan Agar Bisa memeluk Agama Hindu Kaharingan dan beribadah kepada Tuhan (RANYING HATALLA LANGIT) secara Sah menurut kepercayaan Hindu Kaharingan.
Lekry mengakui kepindahan memeluk keyakinan Agama Hindu Kaharingan atas kemauan sendiri agar bisa beribadah
seperti layaknya seorang pemeluk Agama Hindu Kaharingan pada umumnya.
Proses Badudus dilaksanakan dengan penuh hikmat di Balai Hindu Kaharingan disaksikan oleh jajaran pengurus Majelis Daerah serta beberapa Umat Hindu Kaharingan didampingi juga oleh Pengurus Ormas Batantu Kalteng Santo N Adi diBalai BASARAH PENYANG HATAMPUNG Jalan Jendral Sudirman Kilometer 2,7 Sampit pada pukul 10.00 Wib.
Kata ‘Kaharingan’ pertama kali diucapkan oleh balian (pemimpin upacara suku Dayak Ngaju) Damang Yohanes Salihah dan WA Samat pada 1945 saat pendudukan Jepang di Kalimantan Tengah.
Asal nama itu diperoleh dari bahasa ritual ‘haring’ yang bermakna “ada dengan sendirinya, tanpa pengaruh asing”, tulis Heronimus Heron dalam jurnalnya berjudul Agama Kaharingan di Kalimantan yang diterbitkan pada 2021 ketika dia menempuh pendidikan Pascasarjana Program Studi Kajian Budaya Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
Kaharingan hanya mengenal satu Tuhan dengan nama Ranying Hattala Langit.
Ibadah kami itu dimulai dari membakar Dupa Gaharu dan menempatkan tembakau dan sirih pinang di dalam sangku yang sebelumnya diisi beras,telur ayam kampung , bunga-bunga ,minyak kelapa didalam Sangku [bejana dari tembaga atau kuningan].
Kaharingan adalah ajaran kepercayaan asli suku Dayak di Kalimantan yang telah lama ada sebelum agama-agama lain masuk ke wilayah tersebut. Sejak tahun 1980, secara resmi Kaharingan terintegrasi dengan agama Hindu, sehingga sering disebut sebagai Hindu Kaharingan.
Upacara Keagamaan seperti Badudus ini penting bukan hanya agar memperoleh legalitas secara administratif semata tapi merupakan tata cara memeluk Agama Hindu Kaharingan yang sah bagi penganut baru Agama Hindu Kaharingan, ritual ini melambangkan penyucian diri dari segala noda dan dosa, serta memohon berkah kepada Ranying Hatalla Langit (Tuhan dalam kepercayaan Kaharingan) untuk kehidupan yang lebih baik kata Arif Rusmanto yang bertugas meritualkan Pelaksanaan Prosesi Badudus.
Penulis Wartawan BI : Bidik
Editor Utama : Robet T Silun






