Diupdate pada 22 Juni, 2026 7:49
Tayang Senin, (22/06/2026)
Kendari-Borneoindonesianews.com,-Masyarakat Indonesia sungguh berharap terhadap sistem pemerintahan yang bersih, memiliki komitmen berbakti kepada rakyat dan memiliki sosok menteri dengan moralitas tinggi.
Sebagai manusia biasa yang pasti ada khilaf maka teori tidak memastikan pemuka agama mampu menjalankan amanah 100% atas ketundukkannya kepada Tuhan, sebab rayuan kekuasaan sangatlah kuat, menggoda, manis dan membanggakan. Namun, langkah baru dengan masuknya 45% menteri dari unsur pemuka agama yang bergelar doktor menjadi amatlah penting dalam menjaga amanah rakyat.
Bangsa ini membutuhkan sistem dan pengawasan pemerintahan yang bersih, kuat dan transparan dengan ditopang sosok menteri yang memiliki moralitas tinggi. Ada setitik harapan menuju Indonesia Emas semisal jajaran Kabinet menteri kabinet diisi 45% dari pemuka agama bergelar doktor.
Sejak era Soekarno sampai Presiden Prabowo Subianto hanya beberapa orang yang menduduki posisi menteri dengan gelar doktor sekaligus ulama.
Presiden Berikutnya harus ada kesungguhan, keberanian dan ketulusan untuk membentuk kabinet dengan komposisi 45% Ulama dan pemuka agama lainnya yang bergelar doktor. Ini menjadi pengingat bahwa menjadi pemimpin pada level menteri membutuhkan moral, kualitas kesadaran spritual yang teruji dalam sikap, tindakan dan kepakaran serta pengalaman pada bidang tertentu.
Dengan berbagai persoalan nasional dan global yang sangat kompleks dibutuhkan menteri yang memiliki sifat zuhud ( tidak diberdaya dengan dunia) . Ini memungkinkan ada harapan sosok menteri tersebut akan jauh dari korupsi dan perbuatan curang lainnya. Dia berharap keberkahan Tuhan dalam bekerja untuk sejahterakan rakyat atas kebijakannya.
Pemuka agama lainnya seperti Pantekosta, Katolik, Protestan, Hindu, Konghucu, Budha yang bergelar doktor wajib dipertimbangkan oleh presiden berikutnya untuk diakomodir masuk dalam kabinet dengan kualitas keilmuan, pengalaman dan jejaring mereka. Memastikan posisi mereka dalam kabinet sesuai kompentensi keilmuan.
Editor Utama : Robet T. Silun





