Aksi 5 Jam Mampu Membaca Qur’an, AKQ Siapkan Program Khusus Orang Dewasa

Diupdate pada 13 Agustus, 2026 6:14

Tayang Kamis, (13/08/2026)

MEULABOH-Borneoindonesianews.com-Akademi Kehidupan Qur’ani (AKQ) melalui Metode AYA menyiapkan program “Aksi 5 Jam Mampu Membaca Qur’an”, yang ditujukan khusus bagi orang dewasa yang belum mampu membaca Al-Qur’an.

Program yang digagas oleh Ustadz Syamsul Kamal tersebut akan dimulai di Meulaboh, Aceh Barat. Pelaksanaannya dirancang fleksibel dengan menyesuaikan kesiapan waktu peserta.

Menurut Ustadz Syamsul Kamal, program ini berangkat dari kenyataan bahwa masih ada orang dewasa yang memiliki keinginan belajar membaca Al-Qur’an, tetapi belum menemukan pola pembelajaran yang sesuai. Sebagian di antaranya bahkan telah beberapa kali mengikuti pembelajaran dengan metode berbeda, namun masih mengalami kesulitan ketika membaca Al-Qur’an secara mandiri.

“Banyak orang dewasa sebenarnya ingin bisa membaca Al-Qur’an. Persoalannya, mereka terkadang merasa malu untuk kembali belajar dari dasar. Karena itu, kita ingin menghadirkan suasana belajar yang lebih nyaman dan sesuai dengan karakter orang dewasa,” ujar Ustadz Syamsul Kamal.

Pendekatan Metode AYA

Metode AYA menggunakan pendekatan bertahap dengan mengenalkan huruf Hijaiyah dan bunyinya, kemudian peserta diarahkan untuk memahami pola bacaan dan mempraktikkannya secara langsung.

Ustadz Syamsul Kamal menjelaskan, pendekatan tersebut terinspirasi dari proses seseorang belajar membaca bahasa Indonesia. Setelah mengenal huruf dan bunyinya, seseorang secara bertahap dapat membaca kata, kalimat hingga teks.

“Dalam AYA, kita ingin peserta memahami dasar membaca terlebih dahulu. Jadi bukan sekadar menghafal teori, tetapi langsung memahami huruf, bunyi dan cara membacanya,” katanya.

Program Aksi 5 Jam dirancang dengan pola pembelajaran sekitar satu jam dalam setiap sesi hingga mencapai lima jam pembelajaran. Waktu pelaksanaan dapat disesuaikan dengan kondisi peserta.

Dirancang Khusus untuk Orang Dewasa

AKQ memberikan perhatian khusus pada pendekatan pembelajaran bagi peserta dewasa. Menurut Ustadz Syamsul Kamal, faktor psikologis menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan agar peserta tidak merasa malu atau tertekan ketika belajar dari dasar.

Karena itu, proses pembelajaran diupayakan berlangsung secara santai dan komunikatif, namun tetap memiliki tahapan dan target pembelajaran yang jelas.

“Peserta tidak perlu merasa malu karena belum bisa membaca Al-Qur’an. Kita belajar dari apa yang memang belum kita kuasai. Pendekatannya lebih santai, seperti berdiskusi dan ngobrol, tetapi tetap terarah,” ujarnya.

Dimulai dari Meulaboh

Tahap awal program akan dilaksanakan di Meulaboh, Aceh Barat, dengan jadwal yang menyesuaikan kesiapan peserta.

Pola tersebut dipilih karena sasaran program merupakan orang dewasa yang memiliki pekerjaan, keluarga dan berbagai aktivitas lainnya.

Untuk wilayah Aceh lainnya, AKQ masih menyiapkan mekanisme pelaksanaan. Salah satu langkah yang sedang dipersiapkan adalah pengkaderan pengajar Metode AYA agar program tersebut nantinya dapat dikembangkan dan menjangkau lebih banyak daerah.

“Untuk daerah lain di Aceh, mekanismenya akan kita atur secara bertahap. Saat ini kita sedang mempersiapkan pengkaderan agar ke depan ada pengajar yang bisa membawa program ini ke berbagai wilayah,” kata Ustadz Syamsul Kamal.

Persiapkan Aplikasi Pembelajaran

Selain pengkaderan, AKQ juga tengah mempersiapkan aplikasi pembelajaran Metode AYA.

Aplikasi tersebut diharapkan dapat memperluas akses masyarakat terhadap pembelajaran Al-Qur’an sehingga tidak sepenuhnya bergantung pada pertemuan tatap muka.

Pengembangan program secara langsung, pengkaderan dan pemanfaatan teknologi diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya AKQ memperluas akses pembelajaran Al-Qur’an.

Target: Memperluas Akses Belajar Al-Qur’an

Ustadz Syamsul Kamal mengatakan, program Aksi 5 Jam merupakan bagian dari cita-cita yang lebih besar untuk membuka kesempatan belajar Al-Qur’an bagi masyarakat yang belum mampu membacanya.

“Target kami sederhana, tidak boleh ada lagi masyarakat yang tidak bisa membaca Qur’an. Tentu ini tidak bisa dilakukan sendiri dan tidak bisa selesai dalam satu program. Harus ada gerakan bersama, kaderisasi dan akses pembelajaran yang terus dikembangkan,” ujarnya.

Dari Meulaboh, AKQ berharap program tersebut dapat menjadi langkah awal untuk mengembangkan pembelajaran Metode AYA ke berbagai wilayah Aceh.

Aksi 5 Jam Mampu Membaca Qur’an menjadi ikhtiar AKQ untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih mudah diakses, khususnya bagi orang dewasa yang selama ini belum memiliki kesempatan atau belum menemukan cara belajar yang sesuai.

Editor Utama : Robet T. Silun

Bagikan via:

Berita Milik BorneoIndonesiaNews