Diupdate pada 5 Desember, 2023 12:09
Tayang Selasa, (05/12/2023)
Tebo-Borneoindonesianews.com,-Problematika pendidikan sangat beragam, namun tentu yang menjadi bincangan utama adalah bagaimana cara pendidikan bisa mencetak generasi terbaik, namun sangat berbeda dengan persoalan yang terjadi di SMK 2 Tunas Harapan yang terletak di Desa Perintis, kecamatan Rimbo Bujang, Tebo.
Hanya dengan alasan jarang masuk kelas, kepala sekolah SMK tersebut mengambil keputusan yang sangat merugi masa depan generasi muda yang tentu ini sangat menjadi persoalan yang sangat serius.
Negara mewajibkan belajar sembilan tahun namun kepala sekolah SMK 2 Tunas Harapan menghalanginya untuk menjalankan kewajiban tersebut, namun yang lebih miris lagi, keputusan tersebut diberikan kepada siswa yang kurang lebih hanya tinggal tiga bulan lagi menjelang ujian akhir.
Hapsari orang tua siswa menjelaskan, ‘kami telah biasanya datang kesekolah(22/11/2023) dan berbicara baik-baik dan memohon agar anak kami diizin menyelesaikan sekolahnya yang hanya tinggal beberapa bulan saja namun kepala sekolah tetap tidak mengizinkan dengan alasan tidak ada lagi toleransi, lalu kami bertanya apa perbuatan anak kami yang merugikan sekolah, mereka bilang tidak ada yang anehnya saat kami bilang anak²yang jarang masuk bukannya bukan anak kami saja bahkan bukan satu dua orang mungkin sebagian besar yang berbuat seperti itu mereka menjawab iya, tapi kenapa hanya anak kami yang berikan sanksi seperti ini? Lalu yanga anehnya lagi wali kelasnya bilang bahwasanya Mereka kena demo anak-anak karna anak kamisering tidak masuk kelas, tentu pernyataan ini sangat aneh menurut kami, sebenarnya ada apa denga pendidikan sekolah ini, ada kebencian apa mereka dengan anak kami? Apa mereka hanya mau mengajar anak-anak yang rajin saja atau yang pintar-pintar saja!? Lalu apa gunanya gelar pendidik bagi mereka? Bukankah pendidik terbaik itu adalah yang mampu merubah yang prilaku buruk menjadi baik? papar wali murid dengan penuh amarah
Pendidikan bukan untuk mereka yang pintar saja, bukan untuk mereka yang taat saja, dan bukan pula untuk mereka yang rajin saja, tapi pendidikan sekolah adalah untuk mendidik seluruh anak muda bangsa tanpa terkecuali, makan kami sangat berharap agar persoalan ini bisa segera ditangani oleh pihak terkait dan kembalikan hak siswa SMK Tunas Harapan tersebut untuk dapat menjalankan kewajiban belajar Sembilan tahunnya, dan mohon koreksi sistem pendidikan di sekolah tersebut.
Editor : Robet T. Silun






