Diupdate pada 11 Juni, 2025 5:40
Tayang Selasa, (11/06/2025),
Jakarta-Borneoindonesianews.com,-Pentingnya demokrasi di tengah-tengah kritis demokrasi yang dihadapi Indonesia sebagai bangsa, untuk itu Gereja harus mendefinisikan Oikumene menjadi spiritualitas bersama mereka yang tertindas
Pdt. Darwin Darmawan selaku Sekretaris umum Persekutuan Gereja- gereja di Indonesia (PGI), mengingatkan, gerakan Oikumene harus dapat digerakkan untuk kepentingan masyarakat yang tertindas.
Darwin mengatakan dalam Diskusi yang digelar siang itu bahwa
banner 728×90
“Jangan sampai gerakan Oikumene hanya melayani Institusi Oikukeme,”
Adapun yang Hadir dalam Diskusi itu Dosen Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) Jakarta Martin Lukito Sinaga, dan Direktur Eksekutif Pusat Kajian Politik Universitas Indonesia (UI) Hurriyah.
Diskusi dengan moderator Komisi Germasa, yang juga Koordinator Komite Pemilih Indonesia (TePI) Jeirry Sumampow.
Darwin juga mengatakan, demokrasi tidak datang tiba-tiba. “Para ahli mengatakan bahwa Indonesia mengalami erosi, dan hilangnya norma-norma demokrasi,” imbuhnya.
Lebih lanjut Menurut Darwin, terjadi erosi demokrasi karena nilai-nilai integritas dan moralitas itu turun. “Itulah yang dilakukan elit dan oligarki karena rakyatnya belum terkonsolidasi dengan baik,” jelasnya
Mengutip mantan Sekretaris Jenderal Dewan Gereja Dunia Konrad Raiser, lanjut Darwin, spiritual Oikumene dapat menjadi platform melawan ketimpangan struktural dan inspirasi untuk mengadvokasi hak asasi manusia dalam ruang demokratis.
“Oikumene juga menjadi basis eksis untuk tata kelola publik yang adil dan transparan dalam semangat nilai-nilai spiritualitas, dimana hadir bersama dengan orang-orang yang tertindas,” jelas Darwin.
Apapun Hurriyah pada kesempatan itu juga mengatakan Indonesia negara multi etnis, multi kelompok dan multi agama tapi masyarakat tidak saling mengenal.
“Di sekolah kita diajarkan rukun tapi kita tidak diajarkan untuk saling mengenal. Yang muslim takut kristenisasi, dan yang Kristen takut islamisasi,” ujarnya.
Hurriyah mengatakan Bhineka Tinggal Ika hanya slogan namun perdebatan agama tidak tuntas soal politik. Bahkan, lanjutnya, perdebatan politik dilakukan di ruang publik seperti halnya masjid atau gereja.

Sementara itu menurut Martin Lukito Sinaga mengatakan, spirit Oikumene sudah ditanamkan oleh para tokoh-tokoh Kristen sebelum kemerdekaan.
Usai Diskusi ,
Penatua Maria Josephine Kumaat Mantik dalam wawancaranya dengan media mengatakan ,”Diskusi yang berkaitan dengan keberagaman dan toleransi beragama ,tapi disini juga dalam rangka Hari ulang tahun Persekutuan Gereja- gereja Indonesia jadi diskusi ini di laksanakan untuk menambah wawasan juga , makanya kami mengundang masyarakat bukan hanya jemaat di Gereja tapi juga dari Gereja-gereja lain dan juga dari Institusi agama yang lain .jadi kami mengapresiasi dan mengucapkan pada semua teman- teman yang hadir disini terima kasih banyak atas kehadiran , partisipasi, dan perhatian pada kami di GPIB paulus ini”, ungkap Maria Josephine .
Lebih lanjut Maria mengatakan ,” Mudah- mudahan apa yang telah disampaikan oleh Pdt Darwin dan Narasumber yang lain itu membuat kita bersama-sama sebagai satu bangsa dan Negara yang mempunyai toleransi yang sangat tinggi dapat kita pertahankan.dan menambah wawasan bagi semua yang hadir dan jemaat GPIB paulus di Jakarta.
Dengan mengangkat tema Demokrasi
“Artinya, kita sebagai negara yang demokratis, tapi juga diharapkan agar apa yang kita sampaikan ini bukan hanya untuk jemaat atau hadirin yang datang tapi juga untuk masyarakat secara luas dan bagaimana kita berdemokrasi dan juga bertoleransi dalam semua kegiatan khususnya dalam beragama serta dalam kegiatan-kegiatan kebangsaan, dan semoga apa yang disampaikan oleh para narasumber akan berdampak dalam kerjasama kita bersama di sini agar dapat diteruskan juga oleh gereja-gereja yang lain bahkan oleh masjid dan oleh lembaga keagamaan lainnya,” lanjut Penatua Maria.
“Intinya tidak terbatas hanya pada saat diskusi ini saja, tetapi juga bisa diperluas, jika memungkinkan kita juga berpartisipasi dengan pihak lain dan kita juga bisa sharing dengan lembaga-lembaga keagamaan lainnya, tidak hanya Kristen dan Islam tapi juga lembaga keagamaan Hindu, Budha serta Konghucu serta agama-agama yang diakui di pemerintahan kita,” lanjut Penatua Maria.
“Karena, bagi kami di Germasa, kami memiliki komisi lintas agama, jadi Germasa melakukan minimal 1 bulan sekali dan juga minggu depan akan di laksanakan diskusi kembali di Cirebon dengan kegiatan tema minggu depan kami adalah “Sunda Wiwitan” di Cirebon untuk bisa berdiskusi bersama-sama dengan mereka masyarakat Jawa Barat dan juga mempelajari berbagai hal, selain budaya dan agama tapi juga budaya Pasundan khususnya di sana,” tutup Penatua Maria Josephine Kumaat Mantik mengakhiri wawancaranya pada para media .
(Lly)
Editor Utama: Robet T. Silun






