Diupdate pada 10 Maret, 2026 12:17
Tayang Selasa, (10/03/2026)
Oleh : Lefinus Asbanu, S.Pd. (Jurnalis, Pegiat, dan Penggerak Literasi)
Timor Tengah Selatan-Borneoindonesianews.com,-Ada fenomena menarik di Facebook: semakin palsu sebuah akun, semakin berani pemiliknya berbicara. Dari balik foto profil kartun dan nama yang tidak dikenal, kata-kata pedas meluncur tanpa rem. Mereka mengkritik, menghina, bahkan menghakimi orang lain. Tetapi satu hal yang sering hilang dari mereka adalah keberanian paling sederhana yakni keberanian untuk menunjukkan siapa dirinya.
Dari balik identitas yang samar itu, mereka tiba-tiba berubah menjadi sangat berani: mengkritik dengan kasar, menghina, memfitnah, bahkan merasa paling benar.
Ironisnya, keberanian itu hanya muncul ketika identitas mereka tersembunyi.
Keberanian yang Lahir dari Persembunyian
Akun anonim sering menjadi tempat yang nyaman bagi mereka yang ingin menyerang tanpa risiko. Di balik layar ponsel, mereka merasa bebas menulis apa saja. Kata-kata pedas dilontarkan tanpa pertimbangan, seolah-olah tidak ada manusia lain di seberang layar yang bisa terluka oleh ucapan itu.
Fenomena ini sebenarnya menunjukkan satu hal sederhana: keberanian yang muncul bukanlah keberanian sejati. Itu hanyalah keberanian yang lahir dari persembunyian.
Jika diminta menyampaikan hal yang sama secara langsung, banyak dari mereka kemungkinan besar akan memilih diam. Suara yang sebelumnya lantang di kolom komentar tiba-tiba menghilang ketika harus berhadapan dengan dunia nyata.
Ketika Kritik Kehilangan Martabat
Kritik adalah bagian penting dalam kehidupan masyarakat. Kritik membantu memperbaiki kesalahan dan mendorong perubahan. Namun kritik yang disampaikan dari balik akun anonim dengan bahasa kasar sering kali kehilangan martabatnya.
Alih-alih menyumbangkan gagasan, yang muncul justru cacian. Alih-alih memberi solusi, yang terdengar hanya kemarahan.
Lebih ironis lagi, sebagian orang yang paling keras menuntut kejujuran justru tidak berani menunjukkan siapa dirinya.
Keberanian Sejati Tidak Membutuhkan Topeng
Ada prinsip sederhana dalam kehidupan sosial: jika seseorang cukup berani untuk menuduh, menghina, atau mengkritik orang lain, maka seharusnya ia juga cukup berani untuk berdiri di balik kata-katanya sendiri.
Keberanian sejati tidak membutuhkan topeng.
Media sosial tidak membutuhkan lebih banyak orang yang bersembunyi di balik akun anonim sambil melempar batu. Media sosial membutuhkan lebih banyak orang yang berani berbicara dengan identitas yang jelas, dengan argumen yang sehat, dan dengan etika yang terjaga.
Karena pada akhirnya, integritas seseorang tidak diukur dari seberapa keras ia menulis di kolom komentar, tetapi dari seberapa berani ia mempertanggungjawabkan kata-katanya.
Dan jika seseorang hanya berani menyerang dari balik akun anonim, mungkin yang perlu diperbaiki bukanlah dunia di sekitarnya, melainkan keberanian dalam dirinya sendiri.
(Frid -Kabiro TTS).
Editor Utama : Robet T. Silun





