Belajar dari Permintaan Maaf Hotman Paris: Ketika Orang Hebat Pun Perlu Menjaga Ucapan

Diupdate pada 21 Juli, 2026 6:39

Oleh: Robet T. Silun
Pemimpin Redaksi Borneoindonesianews.com

Tayang Senin,(20/07/2016)

Sebagai seseorang yang mengikuti perjalanan karier Hotman Paris Hutapea selama bertahun-tahun, saya termasuk orang yang menaruh rasa hormat kepada beliau. Sulit dimungkiri, kiprah Hotman dalam dunia hukum telah memberikan banyak warna. Keberaniannya menyuarakan pendapat, kemampuannya membela klien, hingga konsistensinya membangun edukasi hukum di ruang publik menjadi alasan mengapa namanya begitu dihormati.

Justru karena rasa hormat itulah, saya merasa perlu menyampaikan pandangan atas peristiwa yang belakangan menjadi perhatian publik, ketika muncul pernyataan, “Lu punya otak gak sih?”, yang kemudian menuai polemik dan akhirnya diakhiri dengan permintaan maaf dari Hotman Paris.

Menurut saya, keputusan beliau untuk meminta maaf adalah sikap yang patut diapresiasi. Tidak semua tokoh besar bersedia mengakui bahwa ucapannya dapat menimbulkan kegaduhan. Mengakui kekeliruan bukanlah tanda kelemahan, melainkan bentuk kedewasaan.

Namun, peristiwa ini juga menjadi pengingat bagi kita semua. Setinggi apa pun posisi seseorang, sebesar apa pun pengaruh yang dimiliki, setiap ucapan tetap memiliki konsekuensi. Terlebih ketika disampaikan di ruang publik, di hadapan media, dan disaksikan oleh jutaan masyarakat.

Seorang figur publik bukan hanya dinilai dari kecerdasannya, tetapi juga dari cara ia menyampaikan pikirannya. Kalimat yang diucapkan dalam hitungan detik dapat meninggalkan kesan yang jauh lebih panjang daripada penjelasan yang disampaikan kemudian.

Saya percaya Hotman Paris tidak bermaksud merendahkan profesi siapa pun. Namun, dalam situasi tertentu, pilihan kata yang kurang tepat bisa melahirkan tafsir yang berbeda di tengah masyarakat. Dari sinilah pentingnya kehati-hatian dalam berbicara.

Bagi insan pers, kritik tentu merupakan bagian dari dinamika demokrasi. Demikian pula bagi narasumber maupun tokoh publik. Hubungan keduanya akan tetap sehat apabila dibangun di atas saling menghormati. Perbedaan pendapat tidak harus berubah menjadi kalimat yang berpotensi melukai martabat orang lain.

Saya berharap peristiwa ini menjadi pelajaran yang baik, bukan hanya bagi Hotman Paris, tetapi juga bagi seluruh tokoh publik di Indonesia. Kepintaran, pengalaman, dan popularitas memang penting, tetapi menjaga tutur kata adalah bagian dari kebesaran seseorang.

Saya tetap menghormati Hotman Paris sebagai salah satu advokat terbaik yang dimiliki bangsa ini. Justru karena rasa hormat itu, saya berharap kejadian serupa tidak kembali terulang. Figur sebesar beliau memiliki pengaruh yang luar biasa. Setiap kata yang diucapkan dapat menjadi contoh, baik maupun buruk, bagi masyarakat yang mendengarkan.

Pada akhirnya, permintaan maaf bukan sekadar mengakhiri sebuah polemik. Yang jauh lebih penting adalah menjadikannya sebagai pengingat bahwa menjaga ucapan merupakan bentuk penghormatan kepada orang lain, sekaligus menjaga kehormatan diri sendiri.

Semoga ke depan, ruang publik kita semakin dipenuhi oleh dialog yang santun, saling menghargai, dan tetap bermartabat, meskipun diwarnai oleh perbedaan pandangan.

(Redaksi)

Bagikan via:

Berita Milik BorneoIndonesiaNews