Diupdate pada 23 Juli, 2026 6:47
Tayang Kamis, (23/07/2026)
Kubu Raya – Borneoindonesianews.com,-Dari kejauhan, jelaga hitam membubung tinggi, merobek langit sore Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat. Bau sangit dari gambut yang mendidih merayap pelan, menusuk hidung dan membakar tenggorokan siapa saja yang melintas. Di atas tanah yang mengering itu, jeritan bumi kembali terdengar sebuah tragedi tahunan yang lahir dari perpaduan ketamakan, kelalaian, dan ketidakpedulian manusia.
Kemarin, kecemasan memuncak di Jalan Parit Paeran, Dusun Mulyorejo, Desa Limbung, Kecamatan Sungai Raya. Hanya berjarak belasan meter dari dinding SMA Negeri 4 Kabupaten Kubu Raya, lidah api menjalar cepat, mengancam gedung sekolah tempat ratusan anak menggantungkan masa depan. Kebakaran hebat seluas 3 hektar. Kapolres Kubu Raya turun langsung ke garis depan, bersama BNPB, relawan dan stekholder terkait, ia memimpin aksi penyekatan bertarung melawan angin dan kepulan asap pekat demi memastikan api tak menyeberang dan melahap tempat belajar para siswa.
Tak jauh dari sana, pertempuran serupa berkecamuk di depan Perumahan Candramidi, Jalan Cendrawasih, RT 004/RW 002, Dusun 1 Sangkar Mas, Desa Rasau Jaya III. Kapolsek Rasau Jaya, Iptu Sihar Lumbantoruan, bahu-membahu bersama relawan Manggala Agni dan pemadam swasta. Dengan selang yang terus menyemburkan air ke perut gambut yang membara, mereka mengepung hamparan lahan seluas sekitar 6 hektar yang melalap vegetasi hingga berjarak sangat dekat dengan teras rumah warga.
Bertarung Melawan Ketamakan dan Kelalaian Bencana ini menyisakan nestapa yang berulang. Di saat ratusan personel gabungan dan relawan harus merelakan paru-paru mereka terisi jelaga demi memadamkan api, masih ada segelintir pihak yang dingin nuraninya, mereka yang demi keuntungan pribadi atau sekadar cara cepat membersihkan lahan, tega mengorbankan kesehatan ribuan jiwa. Kepulan asap yang membumbung bukan sekadar gambut yang terbakar, melainkan manifestasi dari bangkrutnya moralitas dan hilangnya empati terhadap sesama.
Kapolres Kubu Raya, AKBP Kadek Ary Mahardika, melalui Kasubsi Penmas, Aiptu Ade, mengecam keras kebiasaan buruk yang saban tahun merenggut hak warga atas udara bersih ini.
“Dua lokasi di Sungai Raya dan Rasau Jaya sudah kami upayakan pemadaman, pendinginan serta penyekatan bersama BNP, Manggala Agni, pemadam swasta, relawan dan stekholder terkait. Secara visual api memang berhasil dipadamkan, tapi perut gambut masih menyimpan bara dan menyebarkan asap pekat,” ujar Ade kepada awak media, Kamis (23/7/26).
Ade menegaskan, pertempuran di lapangan mulai dari memotong jalur api, penyekatan, hingga pendinginan berjam-jam bukan sekadar pemenuhan kewajiban dinas. Langkah ini adalah bentuk kepedulian membentengi kehidupan warga dari ancaman bencana ekologis yang berulang.
“Setiap meter lahan yang kami siram adalah upaya menyelamatkan rumah warga dari kepungan api dan menjaga anak-anak kita agar tetap bisa menghirup udara segar. Kami minta ketidakpedulian ini dihentikan. Siapa pun yang sengaja bermain-main dengan api di atas tanah ini, akan kami tindak tegas tanpa kompromi,” tegas Ade.
Di bawah cengkeraman terik dan baunya asap gambut, para petugas tetap bertahan di lokasi sampai saat ini. Mereka menyisir sisa-sisa bara yang tersembunyi di kedalaman tanah, memastikan tak ada lagi letupan api baru yang lahir dari ketidakpedulian manusia.
Pewarta:Rudi Dewa Korwil Kalbar
Editor Utama :Robet T. Silun
Call Centre : 110






