Diupdate pada 20 Juni, 2024 1:19
Tayamg Kamis, (20/06/2024)
Jakarta-Borneoindonesianews.com,-Jelang Pilkada PGI mengadakan Diskusi dengan topik Sumut butuh Pemimpin yang Bersih dan berintegritas .
Acara betlangsung di Ruang Media Center PGI yang terletak di Jl. Salemba Raya No. 1, Jakarta Pusat pada Pukul 11.00 WIB,
Acara ini menghadirkan dua nara sumber, yakni Nikson Nababan mantan Bupati Tapanuli Utara yang juga kandidat Wakil Gubernur Sumatera Utara, sebagai nara sumber utama, serta Pdt. Henrek Lokra, Sekretaris Eksekutif Komisi Pengembangan dan Pembinaan Gereja (KP PGI) dengan Moderator Ricardo Marbun Pengurus Pusat PEWARNA Indonesia.
Mengkaji kualitas kepemimpinan yang diperlukan di Sumatera Utara menjelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) itulah yang menjadi tujuan diskusi ini digelar.
Kedua nara sumber mengungkapkan bahwa integritas dan ketegasan adalah kunci utama bagi seorang pemimpin dalam membangun daerah.
Nikson Nababan menegaskan permasalahan bangsa Indonesia tidak bisa dilepas dari persoalan masyarakat sebagai warga yang ada di Indonesia.
Nikson berpandangan bahwa, persoalan krisis kepemimpinan saat ini menjadi hal yang krusial dan hilangnya kepercayaan diri sebagai sebuah bangsa.
“Narasi hari ini kita harus melahirkan pemimpin yang tegas, pemimpin yang percaya diri, menjadi kebutuhan bangsa Indonesia, bukan pemimpin yang takut diintimidasi, takut tidak dapat jabatan, sementara yang di sini (Ibu Kota) ragu,” ujar Nikson.
Sejumlah warisan kolonialisme Belanda masih mengakar di tengah masyarakat Indonesia saat Ini.
Hal itu disampaikan oleh eks Bupati Tapanuli Utara , Nixon Nababan saat memberikan pesan budaya dalam diskusi ini.
Salah satu warisan kolonialisme Belanda tersebut kata Nixon yaitu masyarakat yang tidak percaya diri dan takut dalam menegaskan kebenaran .
“Kita yang ada disini ragu dalam menegaskan kebenaran itu,” ujar peraih sepuluh kali Wajar Tanpa Pengecualian (WTP)
Kendati demikian , kata Nikson warisan kolonial tersebut layak dikikis .
Kita harus luruskan hal tersebut .Kita harus menjadi lilin penerang dalam kegelapan yang diajarkan Alkitabiah,” katanya.
Berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS), kata dia angka kemiskinan , pengangguran di Tapanuli Utara 2021-2023 mengalami penurunan di era kepemimpinan Nikson Nababan.
“Pendapatan perkapita masyarakat meningkat dan yang paling utama adalah kesenjangan sosial makin menipis,” jelasnya.
Dia mengklaim hal Itu jarang terjadi di daerah Kabupaten lainnya.
“Pada Umumnya pertumbuhan ekonomi meningkat tetapi kesenangan sosial makin melebarkan .Yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin,” tandasnya.
Kendati demikian , kata jebolan Lemhnas ini tidak bisa dipungkiri ada intervensi dari pihak lain. ” Mungkin saja intervensi, cawr-cawe (campur tangan) dan itu mungkin.Dan mungkin saja kita hadapi bansos , money politik dan sebagainya,” kata pemilik gelar S3 IPDN ini.
Seandainya diizinkan menjadi calon wakil gubernur Sumatera Utara (Sumut), pihaknya secara tegas menolak politik uang.
“Sumut itu Semua Urusan Memerlukan Uang Tunai harus hilang, dijadikan semua urusan masyarakat Usut Tuntas,” pungkasnya.
Mantan Bupati Tapanuli Utara dua peroode ini meyakini jika menjadi pemimpin Sumut akan menjalani secara tulus dan iklas.
Diketahui , mantan Bupati Tapanuli Utara ini telah mencatat sejarah peraih Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) terbanyak di Sumut.Berdasarkan data BPK RI , Perwakilan Sumut, Bupati Tapanuli Utara Nikson Nababan yang telah menjabat selama dua periode sampai saat ini telah mencatatkan prestasi opini WTP atas Laporan Keuangan Pemkab Taput sebanyak sepuluh kali secara berturut-turut, mulai dari 2014- 2024.
Mantan Bupati Nikson Nababan yang merupakan kader sekaligus politisi PDI Perjuangan itu menjadi satu-satunya kepala daerah di Sumut yang menorehkan prestasi dari satu kepala Daerah.
Nikson mengajak semua umat agar mendorong pemimpin yang clean (bersih) dan tetap tegar dalam membela kepentingan masyarakat.
Dalam kesempatan yang sama Pdt. Hendrek Lokra memberikan perspektifnya dari sudut pandang keagamaan dan sosial.
Ia menyoroti perlunya pemimpin yang tidak hanya memiliki integritas, tetapi juga mampu menjadi teladan moral bagi masyarakat.
“Dalam konteks kepemimpinan, nilai-nilai moral dan etika sangat penting. Pemimpin harus bisa menjadi panutan yang baik, menunjukkan kejujuran, keadilan, dan keberanian dalam menghadapi tantangan,” ungkap Hendrek.
Hendrek juga menekankan bahwa seorang pemimpin harus peka terhadap kebutuhan masyarakat dan siap melayani dengan sepenuh hati. “Pelayanan yang tulus kepada masyarakat adalah esensi dari kepemimpinan yang efektif. Kita butuh pemimpin yang benar-benar peduli dan berkomitmen untuk kesejahteraan rakyat,” tambahnya.
Diskusi ini juga dihadiri oleh Ketua Umum PEWARNA Indonesia Yusuf Mujiono, Ketua Umum MUKI Djasarmen Purba, Ketua Umum Fox Point Yohanes Budi Sedjati, Ketua Umum API Pdt. Harsanto Adi berbagai kalangan, tokoh masyarakat, dan beberapa wartawan dari berbagai media. Mereka memberikan pandangan serta dukungan terhadap pentingnya memilih pemimpin yang memiliki rekam jejak bersih dan tegas dalam memimpin.
Diskusi yang dikoordinatori Franki Hutagaol Ketua PEWARNA Indonesia PC Jakarta Barat ini ditutup dengan harapan bahwa masyarakat Sumatera Utara akan semakin sadar akan pentingnya memilih pemimpin yang bersih dan tegas.
“Sumatera Utara memiliki potensi besar untuk berkembang, dan hal itu hanya bisa dicapai jika dipimpin oleh orang-orang yang bersih, berani, dan tegas, jadilah terang dan garam dunia,” pungkas Nikson Nababan.
Acara diskusi terlebih dahulu dibuka oleh Koordinator Franky Hutagaol dan diawali dengan doa pembuka oleh Jodi Tobing dan ditutup oleh Fridris Siburian.
(Lly)
Editor Utama : Robet T. Silun






