KETUA YPPI APRESIASI MUZAKARAH INTERNASIONAL ULAMA TAUHID SUFI KE-II 2026

Diupdate pada 5 Oktober, 2026 7:02

Tayang Senin, (05/10/2026)

BANDA ACEH-Borneoindonesianews.com,- Aceh bukan sekadar tanah yang memiliki sejarah panjang dalam perkembangan Islam di Nusantara. Aceh juga pernah menjadi ruang tumbuhnya tradisi intelektual, tasawuf dan jaringan ulama yang pengaruhnya melampaui batas wilayah.

Dari tanah Aceh lahir nama-nama besar seperti Syekh Hamzah al-Fansuri dan Syekh Abdurrauf as-Singkili, yang hingga kini terus menjadi bagian penting dalam kajian sejarah intelektual Islam dan kesufian di Nusantara. Berabad-abad kemudian, tradisi keilmuan tersebut menemukan kesinambungannya dalam berbagai jaringan pendidikan dan pesantren ulama Aceh, salah satunya melalui Abuya Syekh H. Muhammad Waly Al-Khalidi atau Abuya Muda Waly.

Dari mata rantai keilmuan itulah kemudian lahir generasi ulama berikutnya, termasuk Abuya Syekh H. Amran Waly Al-Khalidi, yang terus mengembangkan pengkajian tauhid, tasawuf dan kesufian serta memperluas jaringan silaturahmi ulama hingga ke berbagai daerah dan negara.

Dalam konteks sejarah panjang tersebut, Muzakarah Internasional Ulama Tauhid Sufi ke-II Tahun 2026 memperoleh makna tersendiri.

Forum yang mengangkat tema “Mengangkat Ajaran Sufi untuk Persatuan dan Perdamaian Umat” ini mempertemukan ulama dan tokoh keilmuan dari berbagai daerah dan negara. Kehadiran para ulama tersebut menjadikan Aceh kembali memiliki ruang perjumpaan keilmuan yang mempertemukan berbagai pengalaman, pemikiran dan tradisi keislaman dalam satu forum.

Ketua Yayasan Pusat Peradaban Insani (YPPI), Ustadz Syamsul Kamal, menyampaikan ucapan selamat dan sukses atas pelaksanaan Muzakarah Internasional tersebut.

Menurutnya, kemampuan menghadirkan ulama-ulama sufi dari berbagai belahan dunia ke Aceh merupakan sebuah peristiwa keilmuan yang patut dihargai dan disambut dengan penuh penghormatan.

“Ini bukan semata-mata karena acaranya bertaraf internasional, tetapi karena Aceh kembali menjadi tempat bertemunya para ulama untuk berbicara tentang tauhid, tasawuf, kesufian, persatuan dan perdamaian. Bagi saya, ini adalah sebuah momentum keilmuan yang luar biasa,” ujar Ustadz Syamsul Kamal.

Ia memberikan apresiasi terhadap Abuya Syekh H. Amran Waly Al-Khalidi yang dinilainya telah berhasil membangun jaringan silaturahmi dan keilmuan hingga mampu mempertemukan ulama-ulama sufi dari berbagai negara dalam sebuah forum di Aceh.

“Menurut saya, kemampuan Abuya Syekh H. Amran Waly menghadirkan ulama-ulama sufi dari berbagai negara merupakan sebuah capaian yang luar biasa. Tidak mudah membangun kepercayaan, hubungan keilmuan dan silaturahmi hingga mampu mempertemukan ulama dari berbagai penjuru dunia dalam satu forum,” katanya.

Ia menilai capaian tersebut patut dilihat dalam konteks perjalanan panjang keilmuan yang telah tumbuh di Aceh.

“Ini bukan berarti kita sedang membandingkan satu ulama dengan ulama lainnya. Tetapi kita sedang melihat kesinambungan sebuah tradisi. Aceh memiliki Hamzah al-Fansuri, memiliki Abdurrauf as-Singkili, kemudian memiliki Abuya Muda Waly yang membangun tradisi pendidikan dan keulamaan, dan hari ini kita melihat salah satu bentuk kesinambungan pengkajian tauhid dan tasawuf melalui Abuya Syekh H. Amran Waly,” jelasnya

BUKAN SEKADAR MENGENANG ULAMA

Menurut Ustadz Syamsul Kamal, mengenang ulama terdahulu tidak cukup hanya dengan menyebut nama dan sejarah mereka.

“Kalau kita benar-benar mencintai sejarah keilmuan Aceh, maka tugas kita bukan hanya mengenang para ulama. Tugas kita adalah menghidupkan kembali semangat keilmuan yang mereka wariskan,” ujarnya.

Ia mengatakan warisan terbesar para ulama bukan semata-mata nama, makam, kitab atau sejarah yang ditinggalkan, melainkan tradisi ilmu dan adab dalam mencari kebenaran.

“Ulama mengajarkan kita bahwa ilmu harus melahirkan akhlak. Tauhid harus melahirkan ketundukan kepada Allah. Tasawuf harus melahirkan kebersihan hati. Dan ilmu harus membawa manusia kepada persaudaraan, bukan permusuhan,” katanya.

Karena itu, ia melihat Muzakarah Internasional tersebut sebagai kesempatan bagi Aceh untuk kembali menunjukkan bahwa tradisi keilmuan Islam masih memiliki ruang yang hidup.

“Kita jangan hanya bangga mengatakan Aceh adalah Serambi Makkah. Kita harus membuktikannya dengan kehidupan ilmu. Ketika ulama dari berbagai negara datang ke Aceh, duduk bersama dan bermuzakarah, maka di situlah salah satu bentuk nyata bahwa Aceh masih memiliki daya tarik sebagai ruang pertemuan keilmuan Islam,” tegasnya.

SEBUAH KESEMPATAN YANG TIDAK DATANG SETIAP HARI

Ustadz Syamsul Kamal mengajak masyarakat agar melihat kehadiran para ulama internasional tersebut sebagai kesempatan yang tidak setiap hari dapat diperoleh.

“Bayangkan, ulama-ulama dari berbagai penjuru dunia hadir ke Aceh. Mereka datang untuk duduk bersama, bermuzakarah dan berbicara tentang tauhid, tasawuf, kesufian, persatuan dan perdamaian. Ini kesempatan yang sangat berharga bagi santri, mahasiswa, akademisi, ulama muda, generasi muda dan masyarakat umum,” katanya.

Ia berharap masyarakat tidak hanya datang untuk menyaksikan acara, tetapi juga memanfaatkan momentum tersebut untuk memperluas wawasan dan membangun silaturahmi keilmuan.

“Datanglah dengan niat mencari ilmu. Dengarkan. Catat. Bertanya jika ada kesempatan. Kenali para ulama yang hadir. Bangun silaturahmi. Karena bisa jadi dari sebuah pertemuan seperti ini lahir jaringan ilmu yang manfaatnya baru kita rasakan bertahun-tahun kemudian,” ujarnya.

Menurutnya, inilah salah satu nilai penting sebuah muzakarah.

“Muzakarah bukan sekadar panggung untuk berbicara. Muzakarah adalah tempat ilmu dipertemukan. Gagasan dipertemukan. Pengalaman ulama dipertemukan. Dan dari pertemuan itu diharapkan lahir sesuatu yang bermanfaat bagi umat,” katanya.

ACEH SEBAGAI RUANG PERTEMUAN KEILMUAN

Lebih jauh, Ketua YPPI berharap Muzakarah Internasional ini menjadi salah satu momentum untuk memperkuat kembali posisi Aceh sebagai ruang pertemuan ulama dan pengembangan keilmuan Islam.

“Kalau para ulama dunia bersedia datang ke Aceh, maka kita harus menyambutnya dengan penuh penghormatan. Jangan hanya melihat siapa yang datang atau dari kelompok mana mereka berasal. Lihat ilmu yang dibawa, lihat pesan yang disampaikan, dan lihat manfaat apa yang dapat diambil untuk umat,” tuturnya.

Ia menilai tema persatuan dan perdamaian yang diangkat dalam Muzakarah memiliki relevansi yang sangat besar dengan kehidupan umat hari ini.

“Dunia membutuhkan lebih banyak ruang yang mempertemukan manusia, bukan memisahkan. Umat membutuhkan lebih banyak ruang untuk berdialog, bukan saling mencurigai. Karena itu, forum yang mempertemukan ulama dari berbagai tempat untuk berbicara tentang persatuan dan perdamaian patut kita rawat,” katanya.

MENGHORMATI PERBEDAAN, MENJAGA TRADISI ILMU

Ustadz Syamsul Kamal juga mengingatkan bahwa tradisi keilmuan tidak akan tumbuh tanpa keterbukaan terhadap perbedaan.

“Dalam sejarah Islam, perbedaan pemikiran bukan sesuatu yang baru. Para ulama berdiskusi, berdebat secara ilmiah, menulis kitab, saling mengkritik dan saling menguji argumentasi. Tetapi tradisi ilmu memiliki adab,” ujarnya.

Menurutnya, masyarakat tidak perlu takut terhadap perbedaan selama perbedaan tersebut ditempatkan dalam ruang ilmu dan akhlak.

“Kalau ada sesuatu yang belum kita pahami, pelajarilah. Kalau ada yang berbeda, kajilah. Kalau ada yang perlu ditanyakan, tanyakan. Jangan sampai kita kehilangan kesempatan belajar hanya karena kita sudah lebih dahulu membuat kesimpulan,” katanya.

Ia berharap Muzakarah Internasional tersebut dapat menjadi contoh bahwa perbedaan dapat dikelola melalui ilmu dan silaturahmi.

MELANJUTKAN CAHAYA KEILMUAN ACEH

Ustadz Syamsul Kamal kembali menegaskan bahwa Aceh memiliki sejarah keilmuan yang terlalu berharga untuk hanya dikenang sebagai cerita masa lalu.

“Hamzah al-Fansuri adalah bagian dari sejarah intelektual Aceh. Abdurrauf as-Singkili adalah bagian dari sejarah keilmuan Aceh. Abuya Muda Waly adalah bagian dari sejarah pendidikan dan keulamaan Aceh. Dan hari ini, melalui berbagai ikhtiar pengkajian tauhid dan tasawuf yang dikembangkan Abuya Syekh H. Amran Waly, kita melihat adanya upaya untuk terus menjaga dan mengembangkan tradisi tersebut,” katanya.

Ia menilai kehadiran ulama sufi dari berbagai negara merupakan salah satu bukti bahwa jaringan keilmuan tersebut terus bergerak.

“Inilah yang menurut saya luar biasa. Aceh tidak hanya menjadi tempat untuk mengenang ulama-ulama besar masa lalu, tetapi juga menjadi tempat bertemunya ulama-ulama masa kini. Dari masa lalu kita mengambil cahaya ilmu, pada hari ini kita mempertemukannya, dan mudah-mudahan dari pertemuan ini lahir cahaya yang dapat menerangi generasi masa depan,” ungkapnya.

Karena itu, ia mengajak masyarakat Aceh untuk menyambut Muzakarah Internasional tersebut dengan semangat kebersamaan.

“Ini adalah ruang keilmuan. Ini kesempatan bagi Aceh. Mari kita jaga suasananya agar tetap damai, tertib dan penuh penghormatan kepada para ulama yang datang,” katanya.

Ia juga berharap pemerintah, ulama, akademisi, pesantren, mahasiswa, generasi muda dan masyarakat luas dapat melihat momentum tersebut sebagai investasi jangka panjang bagi perkembangan keilmuan Islam di Aceh.

“Semoga apa yang dilakukan hari ini tidak berhenti ketika acara selesai. Semoga setelah para ulama kembali ke negara masing-masing, hubungan keilmuan tetap terjaga, silaturahmi terus berjalan dan Aceh semakin dikenal sebagai tempat yang terbuka bagi perjumpaan ilmu, zikir, tasawuf, pendidikan dan perdamaian,” harapnya.

Ustadz Syamsul Kamal menutup pernyataannya dengan mengajak seluruh masyarakat menyambut para ulama yang hadir dengan hati terbuka.

“Mari kita hormati tamu-tamu ilmu yang datang ke Aceh. Mari kita hadir bukan sekadar untuk melihat sebuah acara, tetapi untuk mengambil ilmu dan hikmah. Karena mungkin kita tidak akan pernah tahu, dari satu pertemuan yang kita hadiri hari ini, bisa lahir perubahan besar bagi kehidupan umat di masa yang akan datang.”

(Murni IB/Kabiro)

Editor Utama : Robet T. Silun

Bagikan via:

Berita Milik BorneoIndonesiaNews