Diupdate pada 14 Oktober, 2026 11:30
Tayang Rabu, (14/10/2026)
BANDA ACEH-Borneoindonesianews.com,-Ketua Yayasan Pusat Peradaban Insani (YPPI), Ustadz Syamsul Kamal, menyampaikan penghormatan dan apresiasi mendalam atas terselenggaranya Muzakarah Ulama Tauhid Sufi Internasional ke-2 yang digagas dan dipimpin oleh Abuya Syekh H. Amran Wali Al-Khalidi di Banda Aceh, pada 9–11 Oktober 2026.
Menurutnya, pertemuan ulama sufi dari berbagai negara tersebut merupakan peristiwa luar biasa yang memperlihatkan kontribusi Aceh dalam menyuarakan nilai-nilai tauhid, Ihsan, persatuan umat, dan perdamaian dunia.
“Apa yang dilakukan Abuya Syekh H. Amran Wali Al-Khalidi bukan sekadar menyelenggarakan pertemuan ulama internasional. Ini merupakan ikhtiar besar untuk mempertemukan para ulama lintas negara, membangun persaudaraan, serta menghidupkan nilai-nilai spiritual sebagai fondasi persatuan umat dan peradaban manusia,” ungkap Ustadz Syamsul Kamal.
Ia memandang, kehadiran para ulama dari Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Thailand, Kamboja, Palestina, Suriah, Maroko, Mesir, Tunisia, dan negara lainnya menjadi gambaran luasnya jangkauan dialog yang dibangun melalui forum tersebut.
Bagi Ustadz Syamsul Kamal, peristiwa ini patut diketahui masyarakat Indonesia dan dunia internasional, terutama generasi muda, agar mereka memahami bahwa dari Aceh dapat tumbuh gerakan keulamaan dan spiritualitas yang mempertemukan umat Islam dari berbagai belahan dunia.
Abuya Amran, Imam Besar dan teladan nyata pengamalan ajaran Rasulullah SAW
Ustadz Syamsul Kamal menyebut Abuya Syekh H. Amran Wali Al-Khalidi sebagai sosok ulama yang memiliki perhatian besar terhadap penguatan tauhid kesufian dan pembinaan kehidupan umat. Dalam kedudukannya sebagai Wali Agama Aceh dan mursyid Tarekat Naqsyabandiyah Al-Khalidiyah, Abuya telah menghadirkan ruang pertemuan bagi para ulama untuk membicarakan persoalan keumatan, kebangsaan, kemanusiaan, dan masa depan peradaban.
Ia juga menyampaikan penghormatan kepada Abuya sebagai Imam Besar umat Islam, sekaligus sosok keteladanan bagi umat Islam dalam mempraktikkan ajaran dan akhlak Nabi Muhammad SAW secara nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, keteladanan Abuya tercermin dalam keseimbangan hubungan dengan Allah SWT (hablum minallah) dan hubungan dengan sesama manusia (hablum minannas). Ajaran agama tidak berhenti pada ungkapan lisan, nasihat, atau penyampaian ilmu, tetapi hadir dalam sikap, tindakan, keputusan, dan cara menjalani kehidupan sehari-hari.
“Bagi saya, Abuya adalah sosok yang memperlihatkan bahwa mengikuti keteladanan Rasulullah SAW bukan hanya dengan mengucapkannya, tetapi dengan menghidupkannya dalam keseharian. Hubungan dengan Allah harus tercermin dalam akhlak terhadap sesama manusia. Tauhid harus melahirkan kasih sayang, ibadah harus membentuk kepribadian, dan ilmu harus tampak dalam tindakan,” tuturnya.
Ia menegaskan bahwa hal tersebut bukan sekadar ungkapan penghormatan, melainkan sesuatu yang menurut pengamatannya tercermin dalam langkah dan tindakan Abuya sehari-hari.
“Pada diri Abuya, saya melihat bagaimana nilai-nilai agama tidak hanya disampaikan sebagai ajaran, tetapi juga diupayakan untuk dijalani dan diwujudkan dalam kehidupan. Inilah keteladanan yang sangat penting bagi umat, terutama di tengah tantangan zaman ketika manusia membutuhkan bukan hanya nasihat, tetapi juga contoh nyata,” tambahnya.
Penghormatan para ulama sufi dunia menjadi kesaksian yang membekas
Ustadz Syamsul Kamal mengungkapkan bahwa selama mengikuti rangkaian muzakarah, dirinya menyaksikan secara langsung bagaimana para ulama sufi terkemuka dari berbagai negara memberikan penghormatan kepada Abuya Syekh H. Amran Wali Al-Khalidi.
Baginya, pemandangan tersebut menjadi pengalaman yang sangat bermakna. Pertemuan itu tidak hanya memperlihatkan persaudaraan ulama lintas negara, tetapi juga menunjukkan bagaimana sosok yang menjadi pusat perhatian dalam sebuah gerakan spiritual memperoleh penghormatan dari para ulama yang hadir.
Momen yang paling membekas baginya terjadi saat penutupan muzakarah di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh.
Dalam tausiah penutupan tersebut, Syekh Muhyiddin Abdurrazak dari Suriah, yang menurut keterangan disampaikan merupakan keturunan langsung Abu Bakar Ash-Shiddiq, menyampaikan pandangannya tentang Abuya sebagai sosok yang menjalankan ajaran Rasulullah SAW secara utuh dan nyata.
Kesaksian itu meninggalkan kesan mendalam bagi Ustadz Syamsul Kamal. Ia memaknainya sebagai penghormatan terhadap keteladanan Abuya dalam menghidupkan ajaran Rasulullah SAW, baik dalam hubungan dengan Allah SWT maupun dalam hubungan dengan sesama manusia.
“Selama muzakarah berlangsung, saya menyaksikan sendiri bagaimana para ulama sufi besar dari berbagai negara menunjukkan penghormatan kepada Abuya. Kemudian, pada penutupan di Masjid Raya Baiturrahman, kita mendengar tausiah Syekh dari Suriah yang menyampaikan pandangannya tentang keteladanan Abuya dalam menjalankan ajaran Rasulullah SAW. Bagi saya, ini merupakan pengalaman yang sangat menyentuh,” ungkapnya.
Ia juga menyoroti harapan yang disampaikan Syekh tersebut agar keberkahan dari keteladanan dan perjuangan Abuya dapat dirasakan oleh umat Islam di seluruh penjuru dunia.
Menurutnya, pesan tersebut mengingatkan bahwa keteladanan seorang ulama tidak seharusnya berhenti pada penghormatan, tetapi menjadi inspirasi bagi umat untuk memperbaiki hubungan dengan Allah, memuliakan sesama manusia, serta mengamalkan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari.
Resolusi muzakarah membawa pesan tauhid, Ihsan, dan keadilan bagi dunia
Selain menyaksikan penghormatan para ulama, Ustadz Syamsul Kamal menilai hasil Resolusi dan Rekomendasi Muzakarah Ulama Tauhid Sufi Internasional ke-2 merupakan bagian penting dari kontribusi pemikiran para ulama bagi umat dan peradaban.
Lima butir resolusi yang dihasilkan menekankan penguatan nilai-nilai tauhid kesufian berlandaskan Ihsan, pembentukan akhlak mulia, sinergi ulama dan umara, penguatan moralitas masyarakat, serta terwujudnya kemakmuran dan keadilan sosial.
Baginya, resolusi tersebut memperlihatkan bahwa pembahasan spiritualitas tidak terpisah dari persoalan kehidupan nyata. Tauhid harus melahirkan kesadaran moral, Ihsan harus tercermin dalam perilaku, dan akhlak mulia harus menjadi fondasi dalam membangun kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
“Ketika dunia menghadapi berbagai persoalan kemanusiaan, perselisihan, dan krisis moral, pesan tentang tauhid, Ihsan, akhlak mulia, dan persatuan menjadi sangat relevan. Inilah nilai yang patut kita kenalkan kepada dunia dari tanah Aceh,” katanya.
Ia memandang, salah satu makna penting muzakarah tersebut adalah terbukanya ruang pertemuan bagi ulama dari berbagai negara untuk memperkuat persaudaraan dan membicarakan persoalan umat dengan landasan spiritual serta tanggung jawab kemanusiaan.
Dari Aceh untuk umat Islam dan peradaban dunia
Sebagai Ketua YPPI, Ustadz Syamsul Kamal memandang penyelenggaraan Muzakarah Ulama Tauhid Sufi Internasional ke-2 sebagai momentum penting yang menunjukkan peran ulama dalam merawat tradisi keilmuan, memperkuat persaudaraan lintas bangsa, dan menyuarakan nilai-nilai spiritual bagi kehidupan manusia.
Ia berharap kiprah Abuya Syekh H. Amran Wali Al-Khalidi semakin dikenal masyarakat Indonesia dan dunia internasional. Bukan semata-mata karena keberhasilan mempertemukan ulama dari berbagai negara, melainkan juga karena ikhtiar menghidupkan nilai-nilai tauhid kesufian sebagai landasan pembentukan akhlak dan pembangunan peradaban.
“Sejarah tidak hanya mencatat siapa yang pernah berkumpul, tetapi juga siapa yang berikhtiar menyatukan hati dan menghadirkan manfaat bagi umat. Apa yang dilakukan Abuya Syekh H. Amran Wali Al-Khalidi di Banda Aceh merupakan ikhtiar besar yang patut kita hargai dan kenalkan kepada generasi penerus,” ujarnya.
Ia menambahkan, kecintaan kepada Rasulullah SAW harus diwujudkan melalui usaha meneladani akhlak beliau, sedangkan penghormatan kepada ulama semestinya mendorong umat untuk mempelajari dan mengamalkan nilai-nilai kebaikan yang mereka ajarkan.
“Abuya mengingatkan kita bahwa agama bukan hanya untuk dibicarakan, tetapi untuk dihidupkan. Kedekatan kepada Allah harus melahirkan kebaikan bagi sesama manusia. Semoga keteladanan dan perjuangan Abuya Syekh H. Amran Wali Al-Khalidi membawa manfaat dan keberkahan bagi umat Islam di seluruh penjuru dunia, serta menjadi bagian dari ikhtiar membangun peradaban yang berlandaskan tauhid, Ihsan, akhlak mulia, persatuan, dan perdamaian.”
Melalui pernyataan ini, Ustadz Syamsul Kamal mengajak masyarakat untuk melihat Muzakarah Ulama Tauhid Sufi Internasional ke-2 bukan sekadar sebagai pertemuan keagamaan, melainkan sebagai bagian dari ikhtiar memperkuat peran ulama dalam membangun umat dan peradaban. Dari Aceh, pesan spiritual itu diharapkan terus bergema bagi Indonesia dan dunia.
USTADZ SYAMSUL KAMAL
Ketua Yayasan Pusat Peradaban Insani (YPPI)
Editor Utama : Robet T. Silun






