Kondisi Jembatan Penghubung Antar Desa Gampong Sibintang Kecematan Panton REEU Kabupaten Aceh Sangat Memprihatinkan

Diupdate pada 21 Oktober, 2024 7:34

Tayang Senin, (21/10/2024)

Aceh-Borneoindonesianews.com,-Kondisi jembatan penghubung antar desa yang berada Dusun Kubu Gampong Sibintang Kecamatan Panton Reu, Kabupaten Aceh Barat, semakin memperihatinkan setelah rusak akibat diterjang banjir sekitar tiga tahun yang lalu. Akibatnya satu unit mobil pribadi terperosok kedalam bekas timbunan abudmen jembatan yang sudah rusak. Sabtu, 19 Oktober 2024.

Jembatan tersebut merupakan jalur vital bagi warga sekitar untuk menjalankan aktivitas sehari-hari, termasuk mengangkut hasil kebun seperti padi dan kelapa sawit ke ibu kota kecamatan maupun keluar daerah lainnya.
Saat ini, jembatan darurat yang dibuat dari batang kelapa oleh masyarakat setempat pun sudah lapuk, menambah risiko bagi pengguna jalan.

Muktaraden (36), Sekretaris Desa (Sekdes) Gampong Sibintang, saat dikonfirmasi via telepon mengatakan, “Jembatan yang rusak ini awalnya adalah jembatan box yang dibangun sekitar tahun 2010. Namun, sejak diterjang banjir tiga tahun lalu, jembatan tersebut tidak lagi berfungsi secara optimal. Warga terpaksa membuat jembatan darurat menggunakan batang kelapa untuk sementara waktu. Sayangnya, jembatan darurat ini pun kini sudah lapuk, sehingga kendaraan roda empat dan sepeda motor harus ekstra hati-hati ketika melintas.”

Muktaraden menjelaskan bahwa jembatan sepanjang 3 meter ini menjadi satu-satunya akses utama yang bisa dilalui kendaraan roda empat untuk mengangkut hasil pertanian warga. Kendaraan berat seperti mobil pengangkut hasil sawit dan padi bergantung pada jembatan ini untuk mengangkut barang ke ibu kota kecamatan atau menjualnya ke luar daerah. Kini kondisi jembatan memprihatinkan.

“Pagi tadi, sebuah mobil hampir terjun ke sungai karena terperosok ke dalam lubang jembatan yang rusak. Untungnya, kami berhasil mengevakuasi mobil tersebut tanpa korban jiwa, tetapi insiden ini menunjukkan betapa berbahayanya kondisi jembatan saat ini,” ujar Mustafa.

Menurutnya, kondisi ini membuat warga resah, karena jika jembatan ini rusak total, akan sangat menyulitkan akses mereka ke berbagai kebutuhan dasar. Bahkan, aktivitas ekonomi seperti pengangkutan hasil kebun ke pasar atau wilayah luar akan terhambat.

Saat ini, kendaraan tanpa muatan masih bisa melintas dengan hati-hati, namun bagi kendaraan yang membawa beban berat seperti sawit, sudah tidak bisa lagi melintas dengan aman.

“Kami sudah beberapa kali melaporkan kerusakan ini ke Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Aceh Barat, namun hingga saat ini belum ada langkah konkret untuk perbaikan.

Sekitar pertengahan tahun 2023 lalu, tim dari PUPR Aceh Barat pernah turun meninjau kondisi jembatan ini, dan mereka meminta kami untuk bersabar. Namun, sampai sekarang belum ada perkembangan lebih lanjut,” jelas Muktaraden.
Ia menambahkan bahwa warga Gampong Sibintang dan sekitarnya juga pernah mendatangi PUPR Provinsi Aceh untuk mengajukan permohonan perbaikan, tetapi mereka diberitahu bahwa jalan atau jembatan tersebut berada di bawah wewenang Kabupaten Aceh Barat.

“Kami bingung harus bagaimana lagi, karena jembatan ini sangat penting bagi kelangsungan hidup warga. Kami berharap pemerintah melalui media ini dapat mendengar keluhan kami dan segera memperbaiki jembatan ini sebelum terjadi kecelakaan yang lebih parah,” katanya penuh harap.

Selain menjadi jalur utama bagi warga, jembatan ini juga sering digunakan oleh kendaraan berat dari perusahaan perkebunan sawit yang berada di sekitar wilayah tersebut.
Menurut Mustafa, jalur lain yang bisa dilalui oleh kendaraan berat harus memutar jauh melalui jalan perusahaan perkebunan kelapa sawit.

“Jika harus memutar, jaraknya lebih jauh dan tentunya menambah biaya operasional bagi para petani dan perusahaan,” tambahnya.

(Murni IB/Kabiro)

Editor Utama : Robet T. Silun

Bagikan via:

Berita Milik BorneoIndonesiaNews