Diupdate pada 19 September, 2025 7:37
Tayang Jum’at, (19/09/2025)
Rasau Jaya Tiga –Borneoindonesianews.com,-Musim tanam kali ini berakhir pahit bagi puluhan petani di Desa Rasau Jaya Tiga, Kabupaten Kubu Raya. Harapan untuk menuai hasil melimpah sirna setelah lahan pertanian mereka terendam banjir, yang mengakibatkan gagal panen total
Bencana ini diduga kuat terjadi akibat tidak berfungsinya aliran irigasi sekunder yang tersumbat parah oleh tumbuhan kumpai, diperparah oleh sikap acuh tak acuh dari Pemerintah Desa (Pemdes) Rasau Jaya Tiga
Para petani di wilayah tersebut mengungkapkan kekecewaan mendalam Menurut mereka, masalah penyumbatan saluran air ini bukanlah hal baru dan telah berulang kali dilaporkan kepada aparat desa. Namun, keluhan tersebut seakan tidak mendapat respons serius
“Kami sudah lelah melapor. Setiap musim hujan pasti was-was. Saluran itu sudah penuh dengan kumpai, air sama sekali tidak bisa mengalir,” ujar Saroso (52), salah seorang petani setempat, saat ditemui di areal sawahnya yang terendam, Jumat (19/9/2025)
Ia menjelaskan: aliran sekunder B tersebut merupakan jalur pembuangan air utama dari area persawahan. Ketika saluran tersumbat, air hujan dan luapan dari parit-parit kecil tidak memiliki jalan keluar sehingga meluap kembali ke lahan pertanian warga.
Dampaknya sangat merugikan. Tanaman Hortikultura seperti Gambas, Tomat, Timun, Cabe, Terong, Pare dan ada juga Daun Bawang terancam gagal panen sebab sudah hampir seminggu terendam dan kini hamper membusuk
Kerugian materiil yang diderita petani ditaksir mencapai jutaan rupiah per hektar, belum termasuk hilangnya potensi pendapatan.
“Modal sudah habis untuk pupuk dan bibit. Sekarang semua hilang. Kami bingung bagaimana harus menyambung hidup dan memulai tanam lagi nanti
,” keluh petani lainnya, Wahyono (45).
Kekecewaan petani memuncak karena mereka menilai Pemerintah Desa Rasau Jaya Tiga tidak peka terhadap penderitaan warganya. Mereka merasa dibiarkan berjuang sendiri mengatasi masalah yang seharusnya menjadi tanggung jawab bersama atau difasilitasi oleh desa.
“Seharusnya Pemdes bisa menjalin Komunikasi lobi-lobi ke Dinas ataupun Anggota Legislatif agar menemuai jawaban dan juga menggerakkan gotong royong massal atau mengalokasikan dana Penanggulangan Bencana untuk normalisasi sebelum musim hujan tiba
Ini kan masalah vital bagi kami,” tegas Saroso. “Kalau terus dibiarkan acuh seperti ini, sampai kapanpun kami akan terus merugi.”
Para petani berharap ada tindakan segera, tidak hanya dari pemerintah desa tetapi juga dari dinas terkait di tingkat kabupaten, untuk melakukan normalisasi saluran irigasi tersebut.
Mereka menuntut solusi nyata agar kejadian gagal panen akibat banjir tidak terus terulang setiap tahun.
Hingga berita ini diturunkan, upaya konfirmasi kepada pihak Pemerintah Desa Rasau Jaya Tiga mengenai keluhan warga ini masih belum mendapatkan tanggapan.
Editor Utama :Robet T. Silun
Pewarta: Rudi Dewa






