Selamatkan Anak Sebelum Gadget Menjadi “Orang Tua Kedua”

Diupdate pada 17 Agustus, 2026 6:00

Tayang Senin, (17/08/2026)

MEULABOH-Borneoindonesianews.com,- Fenomena anak yang semakin lekat dengan telepon pintar menjadi perhatian dalam kegiatan edukasi parenting melalui buku “Selamatkan Anak dari Gadget”. Persoalan penggunaan gadget pada anak dinilai tidak cukup diselesaikan hanya dengan membatasi waktu bermain, tetapi membutuhkan keterlibatan aktif orang tua dalam mendampingi dan membangun kembali kedekatan dengan anak.

Buku tersebut ditulis oleh Ustadz Syamsul Kamal, Founder Akademi Kehidupan Qur’ani (AKQ), sebagai salah satu upaya mengajak orang tua melihat persoalan gadget dari sisi yang lebih luas, yakni perubahan pola komunikasi dan pengasuhan di dalam keluarga.

Menurut Syamsul Kamal, gadget pada dasarnya bukan musuh yang harus dijauhi anak. Teknologi dapat memberikan manfaat apabila digunakan secara tepat. Namun, persoalan muncul ketika gadget mulai mengambil alih waktu, perhatian, dan interaksi yang seharusnya diperoleh anak dari orang tuanya.

«“Persoalannya bukan sekadar anak memegang HP. Yang perlu kita khawatirkan adalah ketika gadget mulai mengambil peran yang seharusnya menjadi tanggung jawab orang tua,” ujar Syamsul Kamal.»

Ia mengatakan, orang tua sering kali memberikan gadget kepada anak dengan alasan praktis. Anak menjadi tenang, sementara orang tua dapat menyelesaikan pekerjaan atau aktivitas lainnya.

Namun, kebiasaan tersebut dapat berkembang menjadi ketergantungan apabila tidak disertai batasan dan pendampingan yang tepat.

Menurutnya, ketika waktu anak lebih banyak dihabiskan di depan layar, ada hal-hal penting yang berpotensi berkurang, seperti komunikasi dengan keluarga, aktivitas bermain, membaca, belajar, serta interaksi sosial di lingkungan sekitar.

Jangan Hanya Merebut HP dari Tangan Anak

Syamsul Kamal menilai, mengambil HP dari tangan anak bukanlah satu-satunya solusi.

Jika gadget dibatasi tanpa memberikan alternatif kegiatan yang menarik, anak akan kembali mencari layar sebagai sumber hiburan dan perhatian.

Karena itu, orang tua perlu menghadirkan kembali berbagai aktivitas di dunia nyata, seperti bermain bersama, membaca buku, berbicara dengan anak, melakukan kegiatan keluarga, berolahraga, serta memperkuat kegiatan keagamaan.

“Kalau HP kita ambil dari anak, kita harus bertanya: apa yang kita berikan sebagai gantinya?” katanya.

Ia menambahkan, anak membutuhkan kehadiran orang tua, bukan hanya aturan.

Menurutnya, anak perlu memiliki ruang untuk berbicara, bertanya, bercerita, dan mendapatkan perhatian secara langsung dari ayah dan ibunya.

Orang Tua Perlu Merebut Kembali Peran Pengasuhan

Melalui buku “Selamatkan Anak dari Gadget”, Syamsul Kamal mengajak orang tua mengubah cara pandang terhadap persoalan gadget.

Pertanyaannya bukan hanya bagaimana membuat anak berhenti menggunakan HP, tetapi bagaimana membuat anak kembali menikmati kehidupan nyata.

“Anak perlu menemukan bahwa kehidupan nyata memiliki banyak hal yang jauh lebih bermakna daripada sekadar layar. Ada keluarga, teman, buku, ilmu, lingkungan, kegiatan keagamaan dan berbagai pengalaman yang membentuk karakter mereka,” jelasnya.

Ia berharap persoalan penggunaan gadget pada anak dapat menjadi perhatian bersama, bukan hanya bagi keluarga, tetapi juga sekolah, komunitas dan masyarakat.

Sebab, menurutnya, pendidikan anak tidak dapat sepenuhnya diserahkan kepada sekolah maupun teknologi.

Rumah tetap menjadi lingkungan pendidikan pertama bagi seorang anak.

Karena itu, orang tua diharapkan tidak hanya menjadi pengawas penggunaan gadget, tetapi juga menjadi teladan dalam menggunakan teknologi.

Salah satu langkah sederhana yang dapat dilakukan adalah menyediakan waktu khusus tanpa gadget untuk berbicara dan melakukan aktivitas bersama anak.

“Anak tidak membutuhkan orang tua yang sempurna. Mereka membutuhkan orang tua yang hadir,” pungkas Syamsul Kamal.

Melalui gerakan “Selamatkan Anak Sebelum Gadget Menjadi Orang Tua Kedua”, pesan yang ingin disampaikan sederhana: teknologi boleh berkembang, tetapi peran orang tua dalam membentuk karakter anak tidak boleh tergantikan oleh layar.

(Murni IB/Kabiro)

Editor Utama : Robet T. Silun

Bagikan via:

Berita Milik BorneoIndonesiaNews