Diupdate pada 11 Desember, 2025 11:02
Tayang Kamis, (11/12/2025)
Jakarta-Borneoindonesianews.com,-Pandemi COVID-19 yang melanda dunia pada tahun 2020 menjadi titik balik bagi banyak sektor, tak terkecuali bagi kehidupan individu. Hal ini dirasakan secara nyata oleh Tami, seorang mantan tenaga pengajar yang memutuskan banting setir ke industri properti di tengah ketidakpastian ekonomi. Kini, ia telah memegang posisi strategis sebagai Business Manager (BM) di Brighton Real Estate.
Keputusan Tami untuk terjun ke dunia properti bermula dari desakan kebutuhan ekonomi keluarga saat pandemi memuncak. Di saat suaminya, seorang pekerja kantoran, menghadapi kebijakan penghematan perusahaan, Tami dihadapkan pada realitas biaya pendidikan anaknya yang baru saja memasuki jenjang perkuliahan.
“Waktu itu tahun 2020, masa-masa mencekam di mana kita semua isolasi di rumah. Meski suami tidak diputus kerja, ada penghematan gaji. Sementara anak saya baru mau kuliah dan membidik universitas ternama atau swasta yang biayanya besar. Saya berpikir, sebagai istri saya harus membantu ekonomi keluarga,” ungkap Tami mengenang motivasi awalnya.
Perjalanan dari Nol hingga Menghadapi Cobaan Kesehatan
Menyadari latar belakangnya sebagai guru yang bertolak belakang 180 derajat dengan dunia pemasaran, Tami melakukan riset mendalam sebelum memilih agensi properti. Ia akhirnya menjatuhkan pilihan pada Brighton karena dinilai memiliki sistem pelatihan yang mumpuni bagi pemula yang memulainya dari nol.
Namun, perjalanan karirnya tidak berjalan mulus. Bergabung pada Juli 2020, Tami sempat mengikuti pelatihan awal (Brighton Uni) sebelum akhirnya terpapar COVID-19. Ia harus menjalani isolasi dan pemulihan selama tiga bulan, dari Juli hingga Oktober. Baru pada akhir Oktober 2020, Tami mulai aktif kembali bergerak di lapangan.
Tidak memakan waktu lama Kerja kerasnya akhirnya membuahkan hasil dengan cepat. Pada bulan November dan Desember, ia berhasil mencatatkan transaksi penutupan (closing) perdananya Prestasi ini menarik perhatian Principal kantornya, yang kemudian menawarkan posisi Business Manager hanya dalam waktu enam bulan sejak ia bergabung. Meski sempat menolak karena merasa belum siap memimpin, Tami akhirnya menerima tantangan tersebut karena melihat adanya jenjang karir yang jelas.
Tami dipercaya memegang proyek dari tiga pengembang besar, yakni Jakarta Garden City, Damai Putra, dan Summarecon, sebagai project leader ia memimpin tim yang terus berkembang pesat.
Dalam menjalankan profesinya, Tami menekankan pentingnya pelayanan dan legalitas dalam bisnis property bukan hanya sekadar keuntungan materi. Menurutnya, tantangan terbesar agen properti bukan hanya penolakan atau ghosting (Pemberi Harapan Palsu) dari klien, melainkan kompleksitas masalah legalitas aset, seperti sengketa waris atau pemblokiran sertifikat.
“Risiko terbesar kita adalah di-PHP klient , itu harus disadari dulu. Namun, kita tidak bisa memaksakan klien. Kuncinya ada pada komunikasi, pendekatan emosional dan pelayanan. Jika kita melayani dengan tulus dan menguasai aspek legalitas, klien akan percaya dan loyal. Ini bukan sekadar uang, tapi service,” tegasnya.
Tami mengakui bahwa kesuksesannya tidak lepas dari sistem One Management yang diterapkan Brighton. Visi-misi yang jelas, usia perusahaan yang matang, serta kurikulum pelatihan yang terstruktur menjadi alasan utama ia mampu bertahan dan berkembang, meskipun bukan berasal dari latar belakang pemasaran.
Di akhir wawancaranya dengan media, Tami menyatakan rasa syukurnya atas pencapaian saat ini, namun menegaskan bahwa ia masih memiliki keinginan dan harapan untuk mencapai target yang lebih tinggi di masa depan. Kisah Tami menjadi bukti bahwa adaptabilitas dan kemauan belajar adalah kunci bertahan di tengah krisis global.
(Lly)
Editor : Robet T.Silun






