BUKU BARU SYAMSUL KAMAL DAN IR. T. AMARULLAH, M.Pi SERUKAN KEMBALIKAN RUH PENDIDIKAN DI TENGAH REVOLUSI AI

Diupdate pada 27 Agustus, 2026 11:29

Tayang Kamis, (27/08/2026)

MEULABOH-Borneoindonesianews.com-Di tengah perkembangan kecerdasan buatan (AI) yang semakin mengubah cara manusia belajar, bekerja, dan memperoleh informasi, persoalan pendidikan dinilai tidak cukup hanya dijawab dengan peningkatan kompetensi dan penguasaan teknologi.

Ada pertanyaan yang lebih mendasar:

“Ketika manusia semakin pintar, apakah ia juga semakin menjadi manusia?”

Pertanyaan tersebut menjadi salah satu gagasan utama dalam buku terbaru karya Syamsul Kamal dan Ir. T. Amarullah, M.Pi berjudul “Mengejar Kompetensi, Tapi Jangan Kehilangan Arah”, Jilid II, dengan subjudul “Ilmu Sejati Tidak Memisahkan Pendidikan dan Agama”.

Buku ini mengangkat kegelisahan terhadap arah pendidikan di tengah perubahan teknologi yang sangat cepat, sekaligus menawarkan gagasan untuk mengembalikan pendidikan kepada tujuan yang lebih mendasar: membentuk manusia yang berilmu, beriman, berakhlak, memiliki keterampilan, mampu menghadapi perkembangan teknologi, serta memiliki arah kehidupan.

BUKAN MENOLAK KOMPETENSI, TETAPI MENGEMBALIKAN ARAH

Menurut gagasan yang dibangun dalam buku tersebut, kompetensi tetap menjadi bagian penting dari pendidikan.

Manusia harus memiliki ilmu.

Harus memiliki keterampilan.

Harus mampu menggunakan teknologi.

Harus mampu beradaptasi dengan perubahan.

Namun pendidikan tidak boleh berhenti pada kemampuan menjawab pertanyaan:

“Apa yang bisa kamu lakukan?”

Pendidikan juga harus membawa manusia kepada pertanyaan:

“Untuk apa kemampuan itu digunakan?”

Di sinilah buku tersebut mengajukan kritik terhadap pendidikan yang terlalu berorientasi pada nilai, gelar, pekerjaan, jabatan, dan daya saing, tetapi kurang memberi ruang terhadap pertanyaan tentang makna kehidupan.

“Mengejar kompetensi boleh. Berambisi untuk maju boleh. Menguasai teknologi boleh. Tetapi jangan pernah kehilangan arah.”

Pesan tersebut menjadi benang merah pemikiran dalam buku ini.

ILMU DAN AGAMA TIDAK SEHARUSNYA DIPISAHKAN

Salah satu gagasan utama buku adalah kritik terhadap kebiasaan memisahkan ilmu menjadi “ilmu agama” dan “ilmu umum”.

Menurut Syamsul Kamal dan Ir. T. Amarullah, M.Pi, pemisahan tersebut dapat membentuk cara berpikir bahwa agama hanya berkaitan dengan akhirat, sedangkan ilmu pengetahuan hanya berkaitan dengan kehidupan dunia.

Padahal, dokter yang menyelamatkan manusia, petani yang menyediakan pangan, insinyur yang membangun infrastruktur, guru yang mendidik, ilmuwan yang meneliti alam, maupun programmer yang menciptakan teknologi, semuanya dapat menjadi bagian dari pengabdian apabila ilmu tersebut diarahkan oleh iman dan akhlak.

Karena itu, persoalan pendidikan bukan semata-mata berapa banyak jam pelajaran agama yang diberikan.

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

“Seberapa jauh nilai agama hidup dalam seluruh proses pendidikan?”

Matematika dapat mengajarkan kejujuran.

Ekonomi dapat mengajarkan amanah.

Biologi dapat menumbuhkan penghargaan terhadap kehidupan.

Teknologi dapat mengajarkan tanggung jawab.

Sejarah dapat melahirkan hikmah.

Kepemimpinan dapat mengajarkan pelayanan.

Dengan demikian, agama tidak hanya berada di dalam satu mata pelajaran, tetapi menjadi ruh yang menjiwai seluruh pendidikan.

RASULULLAH ﷺ SEBAGAI TELADAN PENDIDIKAN SEJATI

Buku ini juga menempatkan Rasulullah Muhammad ﷺ sebagai teladan utama dalam pendidikan manusia.

Pendidikan Rasulullah tidak berhenti pada penyampaian pengetahuan, tetapi membentuk manusia melalui ilmu, keteladanan, pembinaan jiwa, akhlak, amal, dan pengabdian.

Warisan tersebut kemudian diteruskan oleh para ulama sebagai pewaris para nabi.

Dalam konteks pengalaman penulis, salah satu sosok yang dipandang sebagai teladan hidup dalam menghidupkan nilai pendidikan tersebut adalah Abuya Syech H. Amran Wali Al-Khalidi.

Bagi Syamsul Kamal, Abuya bukan sekadar sosok yang menyampaikan ilmu melalui lisan, tetapi juga menghadirkan pendidikan melalui keteladanan, pembinaan umat, pengabdian, dan praktik kehidupan.

Dengan demikian, pendidikan tidak hanya dipahami sebagai proses memindahkan ilmu dari guru kepada murid, tetapi sebagai proses bagaimana ilmu tersebut hidup dalam diri manusia dan melahirkan amal serta akhlak.

MENGEMBALIKAN RUH PENDIDIKAN DI TENGAH REVOLUSI AI

Perkembangan AI menjadi salah satu tantangan terbesar pendidikan masa kini.

Ketika mesin mampu mencari informasi, menjelaskan teori, menerjemahkan bahasa, membuat gambar, menulis kode, menganalisis data, hingga membantu menghasilkan berbagai karya, pendidikan tidak bisa lagi hanya mengandalkan kemampuan menghafal informasi.

Menurut buku ini, justru manusia harus semakin kuat dalam kemampuan yang tidak boleh kehilangan sentuhan kemanusiaan.

Kemampuan menilai.

Kemampuan memilih.

Kemampuan berempati.

Kemampuan mengambil tanggung jawab.

Kemampuan membangun hubungan.

Kemampuan menghadapi kenyataan.

Dan terutama kemampuan membedakan:

“Apa yang bisa dilakukan dengan apa yang seharusnya dilakukan.”

AI dapat membantu menjawab pertanyaan:

“Bagaimana?”

Tetapi manusia tetap harus menentukan:

“Untuk apa?”

Teknologi dapat membantu menunjukkan apa yang mungkin dilakukan.

Namun manusia harus menentukan apa yang benar, baik, dan bermanfaat.

GAGASAN KAMPUS KEHIDUPAN

Salah satu gagasan penting yang dikembangkan dalam buku ini adalah “Kampus Kehidupan — University of Life”.

Konsep tersebut memandang bahwa pendidikan tidak seharusnya berhenti di gedung sekolah, pesantren, atau universitas.

Keluarga menjadi madrasah pertama.

Masjid menjadi ruang pembinaan.

Sekolah menjadi ruang ilmu dan keterampilan.

Pesantren menjadi ruang ilmu, adab, ibadah, dan kemandirian.

Perguruan tinggi menjadi pusat penelitian dan pengembangan peradaban.

Masyarakat menjadi ruang pengabdian.

Dunia kerja menjadi ruang penerapan ilmu.

Sedangkan kehidupan secara keseluruhan menjadi laboratorium pembelajaran manusia.

Dalam konsep tersebut, setiap orang sekaligus dapat menjadi guru dan murid.

Petani dapat mengajarkan kehidupan.

Dokter dapat mengajarkan pelayanan.

Ulama dapat mengajarkan ilmu dan keteladanan.

Profesor dapat mengajarkan penelitian.

Pengusaha dapat mengajarkan kemandirian.

Orang tua mengajarkan kehidupan melalui keteladanan.

Bahkan pengalaman kegagalan dapat menjadi guru.

DARI ILMU MENUJU PENGABDIAN

Buku ini menawarkan sebuah perjalanan pendidikan:

POTENSI

ILMU

KETERAMPILAN

PENGALAMAN

AKHLAK

MANFAAT

PENGABDIAN

IBADAH

ALLAH

Artinya, pendidikan tidak boleh berhenti ketika seseorang memperoleh ijazah.

Tidak berhenti ketika seseorang mendapatkan gelar.

Tidak berhenti ketika seseorang memperoleh jabatan.

Dan tidak berhenti ketika seseorang mencapai kesuksesan ekonomi.

Ukuran keberhasilan pendidikan harus diperluas.

Bukan hanya:

“Berapa nilai yang diperoleh?”

Tetapi juga:

“Manusia seperti apa yang lahir dari pendidikan itu?”

Dan pertanyaan yang lebih dalam:

“Seberapa besar ilmu yang dimilikinya memberikan manfaat bagi kehidupan?”

MENGEJAR KOMPETENSI TANPA KEHILANGAN MANUSIA

Melalui buku “Mengejar Kompetensi, Tapi Jangan Kehilangan Arah”, Syamsul Kamal dan Ir. T. Amarullah, M.Pi mencoba mengajak pembaca melihat pendidikan dari sudut pandang yang lebih luas.

Bukan menolak sekolah.

Bukan menolak kampus.

Bukan menolak pesantren.

Bukan menolak teknologi.

Bukan pula menolak AI.

Sebaliknya, semua itu tetap dibutuhkan.

Yang perlu dikembalikan adalah arah dan ruhnya.

Pendidikan harus melahirkan manusia yang mampu menguasai ilmu tanpa diperbudak oleh ilmu.

Mampu memiliki harta tanpa diperbudak oleh harta.

Mampu menggunakan teknologi tanpa diperbudak oleh teknologi.

Mampu memiliki jabatan tanpa diperbudak oleh jabatan.

Dan mampu mengejar kemajuan tanpa kehilangan hubungan dengan Allah.

Pada akhirnya, buku ini membawa pembaca kepada satu pertanyaan besar:

“Jika AI membuat manusia semakin cerdas, siapa yang akan memastikan manusia tetap menjadi manusia?”

Pertanyaan itulah yang menjadi salah satu kegelisahan utama buku ini.

Sebab masa depan pendidikan bukan hanya tentang seberapa tinggi kompetensi manusia, tetapi juga tentang ke mana kompetensi tersebut diarahkan.

Mengejar kompetensi boleh.

Menguasai teknologi boleh.

Berambisi untuk maju boleh.

TETAPI JANGAN PERNAH KEHILANGAN ARAH.

JUDUL:

Mengejar Kompetensi, Tapi Jangan Kehilangan Arah

JILID: II

SUBJUDUL:

Ilmu Sejati Tidak Memisahkan Pendidikan dan Agama

PENULIS:

Syamsul Kamal

Ir. T. Amarullah, M.Pi

GAGASAN UTAMA:

Mengembalikan Ruh Pendidikan di Tengah Revolusi AI

 

(Murni IB/Kabiro)

Editor Utama : Robet T. Silun

Bagikan via:

Berita Milik BorneoIndonesiaNews