ILMU PERNIKAHAN SERING TERLUPAKAN, PADAHAL AKAN DIJALANI SEPANJANG HAYAT

Diupdate pada 26 September, 2026 11:59

Tayang Sabtu, (26/09/2026)

MEULABOH-Borneoindonesianews.com,-Banyak orang mempersiapkan pekerjaan dengan belajar, mempersiapkan usaha dengan ilmu, bahkan mempelajari berbagai keterampilan untuk menghadapi kehidupan. Namun, ketika memasuki pernikahan, persiapan sering kali lebih banyak berfokus pada akad, pesta, mahar, dan berbagai kebutuhan seremoni.

Padahal, kehidupan setelah akad justru membutuhkan ilmu yang tidak sedikit.

Persoalan inilah yang menjadi perhatian Ustadz Syamsul Kamal, H. Malik Rizuan, M.Ag., dan Lailatul Fajri, S.H. dalam buku terbaru mereka, “Sebelum Menuju Pernikahan”.

Menurut para penulis, ilmu tentang pernikahan seharusnya dipelajari sebagaimana seseorang mempelajari ilmu lain dalam kehidupan. Sebab, pernikahan bukan pekerjaan yang dilakukan untuk sementara waktu, melainkan kehidupan yang akan dijalani setiap hari dan diharapkan berlangsung sepanjang hayat.

Ironisnya, ilmu tentang bagaimana menjadi suami, menjadi istri, membangun komunikasi, menghadapi perbedaan, menyelesaikan konflik, mengelola keluarga, dan menjaga hubungan justru sering kali belum menjadi perhatian utama sebelum seseorang menikah.

Buku “Sebelum Menuju Pernikahan” hadir untuk mengajak generasi muda melihat kembali pentingnya persiapan tersebut.

Di dalamnya, para penulis mengangkat berbagai persoalan yang dekat dengan kehidupan masyarakat, mulai dari makna cinta, batas pertunangan, mahar, tekanan tradisi, kesiapan mental dan spiritual, hingga persoalan pernikahan dini yang tidak disertai kesiapan dan tanggung jawab.

“Pernikahan yang sehat tidak dibangun hanya pada hari akad. Ia dipersiapkan jauh sebelumnya, melalui ilmu, kesiapan jiwa, cara berpikir, dan kesadaran tentang tanggung jawab kehidupan berkeluarga,” menjadi salah satu pesan utama buku tersebut.

Kekhawatiran terhadap rapuhnya kehidupan rumah tangga bukan tanpa alasan. Sepanjang 2024 tercatat 394.608 perkara perceraian di Indonesia, berdasarkan data yang dirujuk Badan Peradilan Agama dan dipublikasikan melalui BPS.

Bagi para penulis, angka tersebut tidak semata-mata perlu dilihat sebagai persoalan setelah pasangan berada di pengadilan. Lebih jauh, masyarakat perlu bertanya bagaimana mempersiapkan seseorang sebelum ia memasuki kehidupan rumah tangga.

Karena itu, “Sebelum Menuju Pernikahan” tidak hanya berbicara tentang bagaimana seseorang menemukan pasangan, tetapi juga bagaimana mempersiapkan diri untuk menjadi pasangan.

Dengan pendekatan ruhani, sosial, psikologis, dan syariat, buku ini mengajak pembaca menjadikan masa sebelum menikah sebagai masa belajar, membentuk karakter, mematangkan kesadaran, dan menata arah kehidupan.

Pesan yang dibawa buku ini sederhana: sebelum mempersiapkan hari pernikahan, persiapkan terlebih dahulu ilmu untuk menjalani kehidupan setelah pernikahan.

“Sebelum Menuju Pernikahan” merupakan karya Ustadz Syamsul Kamal, H. Malik Rizuan, M.Ag., dan Lailatul Fajri, S.H., yang mengajak masyarakat melihat bahwa belajar tentang pernikahan bukan sekadar persiapan menghadapi satu hari, tetapi bekal untuk menjalani kehidupan rumah tangga sepanjang hayat.

(Murni IB/Kabiro)

Editor Utama : Robet T. Silun

Bagikan via:

Berita Milik BorneoIndonesiaNews