Jembatan Anduriang Putus Sejak 2025, 30 Ribu Warga Terdampak, Pemkab Siapkan Jembatan Darurat

Diupdate pada 20 Maret, 2026 4:04

Padang Pariaman-Borneoindonesianews.com,-Akses vital yang menghubungkan tiga nagari di Kecamatan 2×11 Kayu Tanam, Kabupaten Padang Pariaman—yakni Nagari Kayu Tanam, Nagari Anduriang, dan Nagari Guguak—hingga kini masih terputus sejak Jembatan Anduriang ambruk akibat banjir bandang dan galodo pada November 2025 lalu.

Bencana hidrometeorologi tersebut tidak hanya merobohkan jembatan utama, tetapi juga merusak sejumlah infrastruktur di sekitarnya. Dampaknya, sekitar 30 ribu warga mengalami kesulitan mobilitas dan terganggunya aktivitas ekonomi, terutama dalam distribusi hasil pertanian ke pasar.

Warga Andalkan Rakit Darurat

Sejak putusnya jembatan, warga setempat terpaksa menggunakan rakit sederhana berbahan drum sebagai sarana penyeberangan darurat. Meski membantu memangkas jarak tempuh dan biaya transportasi, fasilitas ini dinilai jauh dari standar keselamatan.

Ketua Pemuda Nagari Anduriang, Afrizal, mengatakan bahwa rakit tersebut merupakan inisiatif para pemuda sebagai solusi sementara bagi masyarakat.

“Awalnya jembatan ini putus, lalu kami pemuda berinisiatif membuat rakit supaya masyarakat tidak perlu memutar jauh. Ini bisa menghemat waktu dan bahan bakar,” ujarnya.

Ia menjelaskan, layanan penyeberangan tersebut bersifat sukarela dengan biaya seikhlasnya. “Ada yang bayar Rp5.000, ada Rp2.000, bahkan ada yang gratis seperti anak sekolah,” tambahnya.

Meski demikian, Afrizal mengakui risiko keselamatan tetap tinggi, terutama saat arus sungai tidak stabil.

Pemerintah Siapkan Jembatan Bailey

Menanggapi kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman bersama Polda Sumatera Barat dan Korps Brimob bergerak cepat dengan merencanakan pembangunan jembatan darurat jenis Bailey.

Bupati Padang Pariaman, John Kenedy Azis, menyampaikan bahwa pembangunan jembatan akan dimulai pada awal April sebagai bagian dari percepatan pemulihan akses masyarakat.

“Alhamdulillah, atas bantuan dari Bapak Kapolda melalui Komandan Brimob, di Anduriang ini akan kita bangun jembatan Bailey. InsyaAllah awal April kita laksanakan,” ujarnya.

Jembatan darurat ini diharapkan dapat kembali menghubungkan Pasar Kayu Tanam dengan wilayah sekitarnya, sehingga aktivitas ekonomi masyarakat dapat pulih.

Konstruksi 60 Meter, Antisipasi Banjir Susulan

Dansat Brimob Polda Sumbar, Lukman Syafri Dandel Malik, menjelaskan bahwa pembangunan jembatan Bailey merupakan bagian dari upaya percepatan rehabilitasi pascabencana.

Bentangan sungai yang akan dilalui jembatan telah diukur sekitar 40 meter. Nantinya, dua unit jembatan Bailey masing-masing sepanjang 30 meter akan digabungkan menjadi satu struktur sepanjang sekitar 60 meter dengan lebar 4 meter.

Sebelum pemasangan struktur utama, tim teknis akan membangun pondasi di kedua sisi sungai dengan peninggian hingga 2–3 meter guna mengantisipasi potensi banjir susulan.

Proses pemasangan diperkirakan memakan waktu sekitar tiga minggu setelah pondasi selesai.

Warga Berharap Akses Segera Pulih

Di tengah kondisi darurat, warga berharap pembangunan jembatan dapat segera rampung agar aktivitas ekonomi, pendidikan, dan mobilitas harian kembali normal.

“Kalau harus memutar jauh, sangat menyulitkan. Risikonya juga besar. Harapan kami jembatan segera selesai,” ungkap salah seorang warga, Syamsuwir.

Hingga kini, masyarakat masih bergantung pada rakit darurat sambil menunggu pembangunan jembatan yang lebih aman dan permanen dari pemerintah.

(Meihizra/Wapemred)

Bagikan via:

Berita Milik BorneoIndonesiaNews