Kisah Sedih Terlantar Dua Orang Anak Di TTS, Terancam Tak Sekolah

Diupdate pada 12 Juni, 2025 8:04

Tayang Kamis, (12/06/2025)

Timor Tengah Selatan-Borneoindonesianews.com,- Di pelosok Negeri Provinsi Nusa Tenggara Timur, tepatnya di Ayotupas, Kecamatan Amanatun Utara, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), menyimpan kisah pilu dan sedih lantaran dua orang anak bangsa ditelantarkan sang ibu mereka entah kemana.
Kedua orang anak itu terpaksa harus kehilangan kasih sayang akibat rumah tangga orang tuanya yang karam di tengah jalan, mereka adalah Adhi Saputra Bien (15 tahun) dan Oliva Bien (11 tahun), mereka terpaksa harus bertahan hidup di pedesaan bersama sang ayah Oktovianus Bien, dimana tepatnya pada hari jumat tahun 2020 yang lalu, sang ibu pergi meninggalkan mereka, hari itu bukan hari yang dihiasi dengan doa dan harapan, melainkan menjadi hari yang buruk bagi kedua orang anak Adhi Saputra Bien (15 tahun) dan Oliva Bien (11 tahun).

“Mama jalan tidak kasih tau, mama mau kemana,” ungkap Adhi dengan mata berkaca-kaca, kepada media di Ayotupas, Rabu (11/06/2025)

Tepatnya di hari jumat, bukanlah menjadi hari kebangkitan semangat juang bagi mereka menggapai masa depan melainkan menjadi hari kenangan pahit sang Ibu Gresinta Zakarias pergi meninggalkan rumah tanpa kabar, kepergian sang ibu pemberi kasih sayang itu tinggalkan luka yang mendalam bagi dua orang buah hati yang belum memahami arti hidup “Keluarga”, kejadian itu akibat rumah tangga yang pernah menjadi sarang KDRT, kepergian sang ibu sesungguhnya bukan solusi melainkan awal dari seribu masalah yang datang bertubi-tubi hingga kini dirasa kedua buah hati.

Ayah mereka Oktovianus Bien sang suami menjadi tiang penyanggah, bekerja serabutan yang berpindah-pindah di Kota Betun, Ibu Kota Kabupaten Malaka, Provinsi Nusa Tenggara Timur, hingga akhirnya, Okto sapaannya memilih pulang kampung Ayotupas bersama kedua buah hatinya. Mereka tinggal menumpang dengan keluarga dalam kondisi seadanya, tanpa rumah yang layak, tanpa jaminan, tanpa ibu. Tetapi yang paling tragis tanpa dokumen yang mengakui keberadaan mereka sebagai warga negara, ironisnya ke dua orang anak bangsa ini terancam tak melanjutkan pendidikan akibat tak memiliki akta kelahiran lantaran ayah dan ibunya belum tercatat sebagai suami istri pada pemerintah namun sudah terjadi perceraian.

Rindu Ibu Tapi Harus Bertahan

Rasa rindu selalu timbul, saat suasana sang ibu tak ada seperti aktifitas ibunya teman mereka. Dua buah hati yang meredam rindu dalam sunyi, di setiap pulang sekolah, sang kaka, Adhi harus memasak untuk makan siang bersama adiknya, sementara sang ayah berada di tempat kerja sebagai buruh bangunan. Oliva, sang adik pun membantu mencuci piring, menyapu dan mengatur dalam rumah. Rutinitas ini terbentuk dalam kehidupan sang putri.

“Setiap pulang sekolah, kalau bapak ada pasti masak, kalau tidak, kaka Putra yang masak. Saya bantu cuci piring dan sapu dalam rumah,” ucap Oliva dengan senyium sinis.

Disaat teman-teman seusianya masih punya waktu bermain, Oliva justru memanfaatkan waktu dihari pasar usai pulang sekolah, ia membantu para penjual dipasar yang tidak juah dari tempat mereka tinggal. Dengan hal itu, Oliva sering dihargai dengan diberi uang jajan sebesar 10.000 hingga 20.000 usai membantu mengemas barang jualan.

“Kalau hari pasar, setelah pulang sekolah saya bantu orang pasar menyimpan barang dan kasih uang jajan,” kata Oliva dengan pelan.

Sang kaka, Adhi tak tinggal diam, ia juga memanfaatkan waktu setelah pulang sekolah bahkan di hari libur, dirinya ikut berjualan air dengan pick up milik tetangga. Aktifitas itu, Adhi terkadang diharga 5.000 sekali ikut berjualan, namun jika sehari lebih dari dua atau tiga kali, ia diberi uang lebih hingga 15.000. Namun kondisi ini seakan tidak memberi ruang harapan untuk dirinya bersama sang adik meraih masa depan melalui Sekolah.

“Bapak sama mama sudah pisah, tapi saya dengan adik masih mau sekolah. Cukup tamat SMA, tapi kalau dokumen kami tidak lengkap, kami tidak tahu harus bagaimana,” kata Adhi dengan pelan.

Merindukan sosok ibu, adalah impian, tapi kini takdir berkata lain. Impian mengenyam pendidikan seakan terkubur. Harapan masa depan seperti anak lain seolah musnah. Kini Adhi yang duduk dibangku kelas 9 SMP, Oliva sang adik yang duduk dikelas 6 SD. Disaat anak-anak lain memilih warna seragam sekolah lanjutannya, mereka justru dihadapkan pada pertanyaan menyakitkan
“Apakah kami bisa lanjut sekolah tanpa kartu keluarga dan akta lahir?”

Mereka menangis, bukan karena tak mampu belajar. Mereka menangis karena sistem menutup pintu pendidikan hanya karena mereka tak bisa menunjukan selembar kertas, Kartu keluarga dan Akta Kelahiran.

Ijasah, tidak bisa keluar tanpa dokumen kependudukan, Daftar Sekolah? Ditolak karena tak punya Kartu Keluarga bahkan ketika hendak membuat akte lahir dan merubah kesalahan penulisan nama dan tanggal lahir, mereka diarahkan untuk mengikuti sidang di Pengadilan Negeri Atambua Kabupaten Belu. Informasi ini karena kedua orang tua mereka belum pernah menikah secara resmi, namun pernah berdomisili sebagai warga masyarakat Kabupaten Malaka. Anak-anak ini hanya ingin sekolah, tapi dipaksa berhadapan dengan hukum yang dingin dan tidak ramah terhadap luka.

Negara, Di Mana Kau?
Apa salah mereka lahir dari dua orang dewasa yang gagal membangun rumah tangga? Apa salah mereka tidak punya uang untuk membayar pengacara atau biaya sidang? Haruskah cita-cita seorang anak dipatahkan oleh kelengkapan administrasi yang tak pernah mereka mengerti? Ini bukan soal kartu keluarga dan akta lahir, Ini soal harapan. Ini bukan soal prosedur. Ini soal hak.

Di negeri ini, setiap anak dijanjikan pendidikan sebagai hak dasar, tapi Adhi dan Oliva belajar terlalu cepat bahwa realita tidak selalu berpihak pada janji. Bahwa dibalik slogan “Merdeka Belajar” masih banyak anak yang tidak merdeka bahkan untuk memiliki identitasnya sendiri.

Kami Mau Sekolah, Bukan Bersidang
Kini Adhi bersiap mengganti seragamnya menjadi putih abu-abu. Oliva adik perempuannya pun akan mengenakan seragam biru-putih. Seharusnya ini menjadi momen yang menggembirakan sebagai langkah awal menuju masa depan. Tapi dibalik semangat itu terselip kegelisaan yang mendalam.

Tanpa akte lahir dan kartu keluarga, masa depan mereka menggantung diujung selembar dokumen. Bukan karena mereka malas, bukan karena mereka tidak mampu. Tapi karena sistem memaksa mereka untuk memilih antara mimpi dan prosedur.

Mereka tidak ingin berdiri diruang sidang, mereka hanya ingin duduk dibangku sekolah. Mereka tidak paham hukum, mereka hanya tahu angka, huruf dan cita-cita sederhana bisa tamat sekolah.

Harapan mereka sederhana, bukan soal jabatan atau gelar, tapi kesempatan untuk tetap belajar seperti anak-anak lain. Ditengah segala keterbatasan, satu hal yang terus mereka perjuangkan adalah hak untuk belajar, bukan untuk bersidang. Kini mereka hanya ingin satu hal “Bantu kami, karena kami ingin Sekolah”.

(Frid -biro TTS).
Editor Utama : Robet T. Silun.

Bagikan via:

Berita Milik BorneoIndonesiaNews