LAUTAN MANUSIA DI MALAM PERTAMA MUZAKARAH ULAMA SUFI INTERNASIONAL KE-2

Diupdate pada 10 Oktober, 2026 2:46

Tayang Sabtu, (10/10/2026)

BANDA ACEH-Borneoindonesianews.com,-Pemandangan luar biasa mewarnai malam pertama Muzakarah Internasional Ulama Sufi ke-2 Tahun 2026. Lautan manusia memenuhi Lapangan Taman Ratu Safiatuddin (Kompleks Pekan Kebudayaan Aceh/PKA), Banda Aceh, untuk mengikuti pengajian dan zikir Rateb 1.000.

Pemandangan ini sungguh mengharukan sekaligus menyadarkan. Di tengah zaman ketika keramaian konser dan hiburan sudah menjadi hal biasa, malam ini masyarakat berbondong-bondong menghadiri majelis zikir, mendengarkan nasihat ulama, dan bersama-sama mengingat Allah SWT.

Dahulu, kita menyaksikan masyarakat memadati arena Pekan Kebudayaan Aceh yang diselenggarakan setiap lima tahun sekali. Namun, kali ini ada pemandangan yang berbeda. Masyarakat berkumpul bukan sekadar untuk menikmati hiburan, melainkan untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Ini bukan sekadar tentang banyaknya manusia yang hadir. Ini tentang harapan bahwa hati umat masih merindukan Tuhannya.

Jangan-jangan selama ini kita begitu mudah meluangkan waktu untuk dunia, tetapi begitu sulit meluangkan waktu untuk Allah. Kita sanggup menempuh perjalanan jauh demi kesenangan, tetapi terkadang merasa berat melangkah menuju majelis ilmu dan zikir

Kita sibuk mengejar kehidupan, sampai terkadang lupa kepada Dzat yang memberikan kehidupan.

Malam ini, Aceh memberikan sebuah pesan penting: kerinduan kepada agama, ulama, dan ketenangan spiritual masih hidup di tengah masyarakat.

DIALOG ULAMA SUFI UNTUK PERSATUAN DAN PERDAMAIAN UMAT

Rangkaian Muzakarah Internasional Ulama Sufi ke-2 berlanjut pada Sabtu, 10 Oktober 2026, di Balai Meuseuraya Aceh (BMA), Banda Aceh, dengan agenda dialog dan syarahan ulama yang mengangkat tema persatuan serta perdamaian umat.

Berdasarkan jadwal resmi panitia, sesi pertama dimulai pukul 08.15 WIB dengan menghadirkan ulama dari sejumlah negara.

Syekh Muhyiddin Abdurrazaq dari Suriah membawakan syarahan bertema “Ulama Sufi dalam Perspektif Spiritual untuk Membangun Perdamaian Dunia”.

Selanjutnya, Abuya Syekh H. Amran Waly Al-Khalidy, Wali Agama Aceh, menyampaikan materi “Ajaran Ihsan sebagai Landasan Perdamaian Umat”.

Sementara itu, Prof. Dato’ Dr. H. Fakruddin bin Abdul Mukti dari Brunei Darussalam membawakan tema “Mengangkat Kembali Ajaran Ihsan untuk Mempersatukan Umat Islam di Dunia”.

Pada sesi kedua, mulai pukul 14.00 WIB, pembahasan dilanjutkan dengan materi tentang perkembangan ajaran tasawuf dan tarekat di Nusantara serta peran ajaran kesufian dalam membangun persatuan dan perdamaian umat. Sejumlah pembicara dari Indonesia dan Malaysia turut mengisi rangkaian kegiatan tersebut.

Forum ini menjadi ruang pertemuan para ulama untuk bertukar pandangan dan memperkuat pemahaman tentang peran nilai-nilai spiritual dalam membangun persaudaraan, mempererat persatuan umat, serta mewujudkan perdamaian dunia.

ACEH DAN HARAPAN KEBANGKITAN SPIRITUAL UMAT

Bagi Ustadz Syamsul Kamal, pemandangan lautan manusia yang menghadiri majelis zikir merupakan momentum yang membangkitkan harapan terhadap kehidupan spiritual umat Islam.

Kehadiran masyarakat dalam jumlah besar memperlihatkan potensi majelis zikir dan pengajian sebagai ruang untuk mempererat hubungan antarsesama, memperdalam pemahaman agama, serta menumbuhkan kecintaan kepada Allah SWT.

Harapannya, semangat ini terus tumbuh di tengah masyarakat Aceh dan menjadi bagian dari upaya membangun kehidupan yang berlandaskan nilai-nilai keimanan, ihsan, persaudaraan, dan akhlak mulia.

Muzakarah Internasional Ulama Sufi ke-2 bukan hanya menjadi pertemuan ulama lintas negara, tetapi juga membawa harapan agar pesan spiritual dari Aceh dapat berkontribusi bagi persatuan umat Islam dan perdamaian dunia.

Sebagai daerah yang dikenal dengan sebutan Serambi Mekkah, Aceh memiliki tradisi keislaman yang kuat. Momentum ini diharapkan semakin memperkuat peran ulama dan majelis zikir dalam membimbing masyarakat menuju kehidupan yang lebih dekat dengan Allah SWT.

Ketika umat berkumpul untuk berzikir, tumbuh harapan akan hati yang semakin dekat kepada Allah, persaudaraan yang semakin erat, dan perdamaian yang semakin nyata.

Semoga Muzakarah Internasional Ulama Sufi ke-2 menjadi bagian dari perjalanan panjang kebangkitan spiritual umat Islam, sekaligus menyampaikan pesan persatuan dan perdamaian dari Aceh untuk Indonesia dan dunia.

Aceh Berzikir, Umat Bersatu, Persaudaraan Menguat, Perdamaian Menjadi Harapan Bersama.

Allahu Akbar!

Penulis: Ustadz Syamsul Kamal

(Murni IB/Kabiro)

Editor Utama : Robet T. Silun

Bagikan via:

Berita Milik BorneoIndonesiaNews