Diupdate pada 22 Januari, 2026 9:19
Tayang Kamis, (22/01/2026)
Sumedang- Borneoindonesianews.com.- Ketertarikan masyarakat terhadap pengobatan tradisional dan nilai-nilai kearifan lokal terus mengalami peningkatan. Salah satu ajaran yang kembali mendapat perhatian adalah Nabawadatala, sebuah warisan pengetahuan dari Kabuyutan Sumedang yang kini dikenal luas melalui praktik Terapi Raksa Jasad, sebagaimana dikembangkan dan diperkenalkan kepada masyarakat oleh Gus Mus.
Nabawadatala berakar dari tradisi Sunda kuno yang memandang kehidupan manusia sebagai satu kesatuan antara raga dan batin. Ajaran ini tidak hanya dimaknai sebagai nama sebuah kabuyutan atau metode pengobatan, melainkan sebagai tuntunan hidup yang mengajarkan cara menata diri, menjaga keseimbangan, serta menegakkan martabat manusia di hadapan Tuhan dan sesama.
Secara filosofis, Nabawadatala tersusun dari simbol-simbol bahasa Sunda lama yang sarat makna.
Na, berasal dari najeurkeun, dimaknai sebagai menegakkan kehidupan dengan kesadaran penuh.
Ba, dari Batara, merujuk pada ilmu yang bersumber dari Ketuhanan sebagai landasan utama laku hidup.
Wa, dari Wangsit, berarti petunjuk batin yang membimbing manusia dalam bersikap dan mengambil keputusan.
Da, dari Danghyang, dimaknai sebagai upaya menghadirkan kembali wibawa dan martabat besar manusia.
Ta, dari Tangkal Satria, menjadi penanda atau ciri nyata dalam perilaku orang yang menegakkan nilai ketuhanan.
Sedangkan La, dari Lara ka Pegat, dimaknai sebagai terputusnya mata rantai kesusahan bukan hidup tanpa ujian, melainkan tidak terbelenggu oleh penderitaan yang berkepanjangan.
Dengan pemahaman tersebut, Nabawadatala dipandang sebagai ajaran yang menuntun manusia untuk menegakkan kehidupan berdasarkan ilmu dari Sang Pencipta, dijalani melalui petunjuk batin, demi menghadirkan kembali wibawa hidup yang tercermin dalam perilaku sehari-hari.
Terapi Raksa Jasad sebagai Penerapan Nilai
Nilai-nilai Nabawadatala kemudian diterapkan dalam bentuk Terapi Raksa Jasad, sebuah praktik tradisional yang memadukan perawatan fisik dengan penataan keseimbangan batin. Terapi ini tidak hanya ditujukan untuk mengatasi keluhan jasmani, tetapi juga untuk memperkuat ketahanan dan keharmonisan tubuh secara menyeluruh.
Dalam pelaksanaannya, Raksa Jasad menggabungkan berbagai metode tradisional, seperti sentuhan terapi, pengaturan peredaran tubuh, pemanfaatan ramuan herbal, serta penyelarasan batin. Pendekatan ini dilandasi keyakinan bahwa kesehatan tubuh tidak dapat dipisahkan dari kondisi batin dan cara seseorang menjalani kehidupannya.
Menjangkau Jutaan Pengamal hingga Luar Negeri
Perkembangan Terapi Raksa Jasad menunjukkan perluasan yang signifikan. Berdasarkan data internal komunitas, jumlah anggota dan pengamal ajaran Nabawadatala disebut telah melampaui 12 juta orang. Jaringannya tersebar di berbagai daerah di Indonesia dan bahkan telah menjangkau masyarakat dari luar negeri, baik untuk tujuan terapi maupun pembelajaran nilai-nilai ajaran yang terkandung di dalamnya.
Kondisi ini menunjukkan bahwa Nabawadatala tidak lagi sekadar dipahami sebagai ajaran lokal, melainkan telah berkembang menjadi fenomena sosial dan budaya yang melintasi batas wilayah.
Warisan Nilai yang Terus Dijaga
Berbagai upaya pelestarian terus dilakukan agar Nabawadatala dan Terapi Raksa Jasad tidak berhenti sebagai praktik personal semata, melainkan tetap hidup sebagai bagian dari warisan budaya. Dalam konteks ini, Nabawadatala diposisikan sebagai kearifan lokal yang dapat berjalan berdampingan dengan pendekatan medis modern, tanpa saling meniadakan.
Di tengah derasnya arus modernisasi, Nabawadatala hadir sebagai pengingat bahwa kesehatan dan kesejahteraan manusia tidak hanya berkaitan dengan aspek fisik, tetapi juga tentang bagaimana seseorang menegakkan nilai hidup, menjaga martabat diri, serta merawat keseimbangan antara raga dan batin.
(Raden Kemal)
Editor Utama : Robet T. Silun





