Diupdate pada 26 Desember, 2025 7:30
Tayang Jum’at,(26/12/2025)
Jakarta-Borneoindonesianews.com,-
Oleh : Pimpinan Redaksi Borneo Indonesia
Robet T. Silun
Bencana alam yang melanda sebagian wilayah Sumatra, khususnya Aceh, di akhir tahun ini adalah luka bersama bagi kita semua . Di tengah duka, kepanikan, dan kesulitan hidup yang dirasakan masyarakat, jurnalisme dituntut hadir bukan sebagai api, melainkan sebagai cahaya.
Saya menghimbau kepada seluruh wartawan Borneo Indonesia, di mana pun bertugas, agar lebih berhati-hati, berimbang, dan berempati dalam menyajikan pemberitaan terkait bencana ini. Ingatlah, setiap kata yang kita tulis bukan sekadar huruf ia bisa menjadi penenang, tetapi juga bisa menjadi pemantik kegaduhan.
Pemberitaan bencana bukan ajang mencari sensasi, apalagi menggiring opini yang dapat memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa. Jangan sampai narasi kita justru menambah beban psikologis masyarakat yang sedang berjuang bertahan hidup.
Dalam situasi seperti ini, sangat penting untuk tidak menyudutkan pihak mana pun, Kritik tentu merupakan bagian dari kerja jurnalistik, namun kritik harus disampaikan secara objektif, proporsional, dan berbasis data, bukan dengan nada emosional yang berpotensi memperkeruh keadaan.
Tugas kita sebagai jurnalis adalah menghadirkan gambaran yang utuh, bukan potongan-potongan narasi yang bisa menyesatkan persepsi publik.
Jurnalisme yang baik bukan yang paling keras suaranya, tetapi yang paling jernih nuraninya. Wartawan adalah penjaga akal sehat publik, bukan penjual kegaduhan.
Mari kita jaga marwah profesi ini.
Mari kita rawat empati, akurasi, dan keseimbangan.
Karena di tengah bencana, persatuan jauh lebih berharga daripada sensasi.
Borneo Indonesia harus berdiri sebagai media yang menenangkan, mencerahkan, dan mempersatukan.
(Redaksi)






