Diupdate pada 10 Mei, 2026 10:26
Tayang Senin, (11/05/2026)
Karo Berneh-Borneoindonesianews.com- Sembahen Kuta Bagi Orang Karo bukan hanya soal Ritual mistis, Melainkan Perpaduan antara penghormatan Sejarah ( Pendiri Desa ), Kepatuhan Pada Adat dan rasa Syukur kepada Pencipta atas Tanah tempat mereka tinggal.
Dalam kepercayaan tradisional Karo, setiap kuta diyakini memiliki roh penjaga atau energi pelindung. Bentuk “sembahen” atau penghormatan ini biasanya ditujukan kepada:
– Keramat Kuta, tempat-tempat tertentu (biasanya pohon besar atau batu unik) yang dianggap sebagai titik spiritual desa.
– Begu Jabu & Roh Leluhur, penghormatan kepada para pendahulu desa yang telah meninggal agar tetap menjaga keselamatan dan kesuburan tanah di kuta tersebut.
Seluruh warga desa, baik Simantek Kuta, Senina, maupun Anak Beru, berkumpul untuk melakukan perencanaan sebelum dilakukan prosesi Ndahi Sembahen.
Anak Beru bertanggung jawab untuk melakukan pembersihan lokasi sembahen Kuta dengan memagari serta memasang lambe-lambe di sekeliling lokasi sembahen Kuta.
Simantek atau pendiri kuta beserta senina bertanggung jawab untuk mengumpulkan bahan bahan lau penguras (Rimo Pitu Setangkai, Jera Pangir, lasuna, kuning gersing).
Pada saat melakukan prosesi di lokasi sembahen kuta, si Erjabaten melalui anak Beru memainkan musik (Gendang Perpulungun) untuk mengumpulkan orang orang yang hadir serta menyampaikan maksud dan tujuan kehadiran Ndahi Sembahen Kuta.
Dalam tradisi Karo yang masih memegang teguh nilai-nilai Pemena, Guru Si Baso (sering juga disebut Guru atau Baso) memiliki peran sentral sebagai mediator spiritual. Ia bertindak sebagai jembatan antara dunia nyata (Pebaleng-baleng) dan dunia gaib.
Dalam ritual ini, biasanya disediakan sesajian atau makanan persembahan (Pajuh-pajuhen). Guru Si Baso berperan, membacakan doa atau mantra (Sura-sura) saat mempersembahkan makanan tersebut, memasukkan nilai-nilai sakral ke dalam simbol-simbol seperti sirih (belo), kunyit, atau beras piher.
Selama prosesi Ndahi Sembahen, Guru Si Baso mengamati tanda-tanda alam atau mendapatkan “penglihatan” apakah persembahan tersebut diterima atau tidak. Jika ada sesuatu yang kurang, ia akan memberitahu pihak Anak Beru atau warga desa untuk memperbaikinya agar tidak mendatangkan malapetaka bagi kuta.
(Edy)
Editor Utama : Robet T. Silun






