OPINI: Olahraga dan Genetika – Menggali Akar Kualitas Sepak Bola Indonesia

Diupdate pada 21 Juli, 2026 1:27

Tayang Selasa, (21/07/2026)

Surabaya-Borneoindonesianews.com,-Kegagalan Tim Nasional Indonesia dalam mewujudkan mimpi tampil di Piala Dunia kembali memunculkan pertanyaan besar: mengapa negara dengan jumlah penduduk yang sangat besar masih kesulitan melahirkan pemain sepak bola yang mampu bersaing secara konsisten di level dunia?

Berbagai faktor telah lama menjadi bahan diskusi, mulai dari pembinaan usia dini, kompetisi yang belum ideal, kualitas pelatih, hingga infrastruktur olahraga. Namun, ada pula sudut pandang lain yang menarik untuk dicermati, yakni kaitan antara genetika, lingkungan, dan pembentukan karakter atlet.

Beberapa tahun lalu, dalam sebuah seminar nasional di Jakarta, EVA GOLDA dari EVA INSTITUTE berdiskusi bersama sekitar 25 pelatih sepak bola profesional senior. Salah satu pertanyaan krusial yang mengemuka adalah mengapa Indonesia yang memiliki populasi lebih dari 280 juta jiwa belum mampu menghasilkan skuad yang benar-benar kompetitif di tingkat Asia maupun dunia.

Dalam pemaparannya, Eva Golda menjelaskan bahwa gen merupakan cetak biru biologis yang membawa berbagai potensi manusia, termasuk kemampuan fisik dan bakat olahraga. Meski demikian, potensi genetik tidak bekerja secara otomatis; lingkungan sejak masa awal kehidupan dinilai memiliki peran penting dalam memengaruhi bagaimana potensi tersebut berkembang.

Pandangan itu juga menekankan peran vital keluarga—khususnya ibu—dalam menciptakan suasana yang mendukung sejak masa kehamilan hingga anak tumbuh dewasa. Menurut pemateri, budaya yang menghargai olahraga sejak dini diyakini turut membentuk karakter disiplin, keberanian, daya juang, dan kecintaan terhadap aktivitas fisik.

Selain itu, gagasan yang disampaikan juga mengaitkan pengalaman sejarah suatu bangsa dengan karakter masyarakat lintas generasi. Meski topik mengenai dampak pengalaman hidup yang terbawa secara turun-temurun masih terus dikaji dunia akademik dan belum menjadi kesimpulan ilmiah yang mutlak, hal ini menjadi catatan reflektif yang menarik.

Terlepas dari berbagai pandangan tersebut, kemajuan sepak bola Indonesia pada akhirnya memerlukan pendekatan yang menyeluruh. Pembinaan usia dini yang berkualitas, peningkatan sistem kompetisi, pendidikan pelatih yang berkelanjutan, dukungan keluarga, pemenuhan gizi, penerapan ilmu keolahragaan (sport science), serta pembentukan mental juara adalah faktor-faktor kunci yang terbukti berkontribusi terhadap prestasi.

Diskusi mengenai genetika dan lingkungan dapat menjadi bagian dari upaya memperluas wawasan dalam membangun ekosistem olahraga nasional. Namun, pembahasan ini perlu terus ditelaah berdasarkan bukti ilmiah yang berkembang agar dapat menjadi landasan kebijakan yang tepat sasaran.

Harapannya, Indonesia mampu melahirkan generasi atlet yang sehat, tangguh, berkarakter, dan berdaya saing tinggi di kancah internasional melalui kolaborasi erat antara keluarga, sekolah, masyarakat, organisasi olahraga, akademisi, dan pemerintah.

Salam Olahraga. Bagimu Negeri, Jiwa Raga Kami.

(Bram Lodu/Korwil Jatim).

Editor Utama : Robet T. Silun

Bagikan via:

Berita Milik BorneoIndonesiaNews